Refleksi:  “Makna Cinta Kasih di Tengah Pandemi”

0
1808

 

Keadaan dunia saat ini sungguh memprihatinkan dengan kemunculan virus Corona atau kerap dikenal luas sebagai “COVID-19”. Kehadiran covid-19 membuat situasi dunia yang sedang mengalami masa-masa yang begitu sulit. Kemunculannya tak hanya merenggut nyawa sekian banyak orang, melainkan mengubah sistem kehidupan manusia di seluruh belahan dunia. Dampak besar yang dirasakan yakni orang menjalankan pekerjaannya dari rumah saja dengan memanfaatkan sistem teknologi, misalnya belajar, kuliah, beribadah, berbisnis dan berbagai pekerjaan lainnya.

Perubahan ini pun merambat pada hubungan relasi antar sesama manusia yang tersendat. Kenyataan bahwa covid-19 membatasi kehidupan sosial manusia ini memberi dampak bagi orang kurang mampu, yakni orang miskin dalam pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Bahkan orang-orang pada umumnya sulit menghidupi keluarganya sendiri dikarenakan tuntutan pekerjaan yang tiba-tiba dibatasi ruang dan waktunya. Akhirnya kerap kali ditemukan orang-orang yang ingin merasakan bantuan dari sesama yang berkelebihan demi kelangsungan hidup.

Dalam refleksi, saya menyadari hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang hidup berdampingan dengan orang lain. Sehingga sangatlah dituntut agar manusia hidup dalam keharmonisan bersama manusia lainnya dengan tidak boleh membatasi cinta kasihnya pada diri sendiri dalam sikap egoisme.  Cinta kasih tersebut disalurkan kepada orang lain dalam bentuk dan cara apapun, misalnya dengan tindakan-tindakan nyata seperti memberi bantuan, bekerja sama, solider dan menghargai orang lain. Inilah wujud nyata dan gambaran arti cinta kasih kepada sesama.

Bersandar pada ajaran Kitab Suci, Yesus berkata, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” dan “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Perkataan Yesus hendak menegaskan bahwa cinta kasihlah yang harus mendasari segala tindakan. Kasih kepada Allah dan kepada sesama. Oleh sebab itu, cinta kasih itu jangan hanya setengah-setengah tetapi dengan penuh hati, jiwa dan akal budi. Tuhan sendiri tegaskan bahwa cinta kasih itu menjadi hukum yang utama yang mendasari segala hukum.

Semestinya kita dituntut untuk berbuat baik terhadap sesama sebagai wujud nyata cinta kasih Allah. Sebab setiap orang akan merasa bahagia bilamana merasa dicintai dan dikasihi. Maka perlulah bagi kita membudidayakan cinta kasih dalam kehidupan keluarga, komunitas, basis dan lingkungan kita.

(Fr. Januarius Heatubun)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini