Refleksi: “Covid; Gereja yang Berbela Rasa?”

0
1348

Ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya pernah membantu ayah saya membuat pagar kayu di depan rumah. Saya memegang sepotong kayu yang sudah diukur sama dengan kayu yang lain, dan ayah saya mulai memaku kayu tersebut satu per satu. Setelah semua potongan kayu itu terpasang, kami melihat dari kejauhan, ternyata ada beberapa kayu yang dipasang tidak rapi atau tidak sama tingginya dengan kayu di sebelah kiri dan kanan. Dan hal semacam itu sangat tidak enak dipandang mata. Pada akhirnya, ayah saya menarik kembali potongan kayu yang tidak rapi itu dan memasangnya kembali dengan hati-hati agar hasilnya bisa kelihatan indah dan rapi.

Dalam permenungan, saya mulai berpikir, mengapa Tuhan sebagai pencipta, tidak bisa seperti kami yang menciptakan pagar kayu, dan ketika melihat ada yang kurang rapi bisa langsung turun tangan untuk memperbaikinya. Mengapa Dia seakan-akan sedang membiarkan dunia dan manusia sebagai makhluk yang Ia cintai sengsara karena wabah virus ini. Dan akhirnya saya sampai pada jawaban bahwa manusia sama sekali tidak bisa disamakan dengan pagar kayu. Pagar kayu membutuhkan penciptanya untuk memperbaiki dirinya. Tetapi manusia punya karunia akal budi dan hati nurani untuk menciptakan masalah ataupun menemukan solusi atas permasalahan yang ia ciptakan sendiri. Maka dalam refleksi saya, saya menemukan bahwa, Tuhan bukannya membiarkan manusia mengalami masalah seperti sekarang ini ataupun Tuhan bukannya tidak mampu untuk melenyapkan virus ini, tetapi lebih daripada itu, Tuhan menghargai dan menghormati kemampuan dan karunia yang telah Ia berikan kepada manusia.

Namun, kendati manusia memiliki kemampuan untuk keluar dari masalah, saya masih berpikir bahwa Tuhan sama saja tetap membiarkan manusia untuk menyelesaikan masalah ini sendirian. Tidak bisakah Dia membantu sedikit saja? Dan saya sampai pada jawaban bahwa Tuhan punya cara sendiri untuk senantiasa menyertai, melindungi dan mendidik manusia. Manusia harus dididik untuk menggunakan karunia hati nurani dan akal budi secara benar. Masalah bisa hadir dalam hidup manusia ketika kita salah menggunakan hati dan pikiran kita. Maka jika kita mau keluar dari masalah, perbaiki hati dan pikiran kita untuk bisa menjadi lebih baik lagi. Gunakan hati kita untuk peka terhadap mereka yang mengalami kesulitan. Gunakan hati kita untuk senantiasa menyayangi yang ada di sekitar kita, misalnya dengan senantiasa mematuhi protokol kesehatan. Jika kita punya kekuasaan, gunakanlah akal dan hati dengan sebaiknya untuk menjadikan kekuasaan itu berguna bagi banyak orang. Sebab Tuhan selalu hadir dalam diri setiap orang. Jadilah anggota gereja/umat Allah yang selalu peduli dengan orang lain.

(Fr. Andreas Masaroni)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini