Refleksi: “Perjalanan Manusia Naik Menuju Allah Bapa”

0
1950

Setiap pendaki gunung akan merasa sangat puas jika mereka berhasil naik sampai ke puncak gunung. Di atas puncak gunung itu para pendaki akan menikmati indahnya alam dan pemandangan yang menakjubkan. Di atas gunung yang tinggi orang merasa damai dan tenang. Untuk itulah banyak orang walaupun bersusah payah mendaki gunung sampai-sampai mereka akan terus berusaha agar sampai ke puncaknya.

Kita sebagai manusia yang menjalani kehidupan di dunia ini kadang seperti seorang pendaki yang sementara mendaki gunung. Kita berusaha untuk bisa mencapai puncak kejayaan kita. Seorang anak akan berusaha untuk membanggakan orang tuanya. Setiap orang tua akan berusaha untuk memberikan kesuksesan kepada anak-anaknya. Seorang mahasiswa akan berusaha untuk berhasil dalam studinya. Setiap dari kita berusaha untuk sampai pada puncak gunung kebahagiaan dan keberhasilan kita. Semua usaha dan kerja keras tentu menjadi syarat agar kita dapat berhasil mencapai keberhasilan kita.

Di masa pandemi ini semua orang berusaha untuk mencapai titik tertinggi yakni kemenangan dalam pertempuran melawan wabah virus Covid-19. Segala usaha telah manusia lakukan namun banyak kepedihan yang masih terasa. Kita sebagai orang beriman percaya bahwa situasi pandemi ini menjadi momen bagi kita untuk semakin mendekatkan diri dengan Tuhan. Inilah pengalaman pendakian seluruh umat manusia untuk mencapai puncak agar dapat bertemu dengan Allah.

Kita sebagai pengikut Kristus dituntut dalam perjalanan hidup kita agar berlaku baik agar kelak dapat mencapai kebahagiaan bersama Allah. Perjalanan orang Kristen menuju Allah bukanlah perjalanan wisata melainkan perjalanan salib yang harus ditempuh dengan memikul salib yang begitu berat. Namun pada akhirnya orang Kristen akan menikmati bahagia Paskah bersama Allah dalam kemuliaan-Nya. Di tengah situasi dunia saat ini kita sebagai orang Kristen dituntut untuk terus mendaki gunung Tuhan dengan doa-doa kita agar kelak kita dapat dipersatukan dengannya dalam kemuliaan.

Kita menyadari bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara namun menjadi landasan bagi kita untuk dapat bersatu dengan Allah yang selalu mencintai kita. Untuk itu sebagai anak-anak Allah kita sudah selayaknya mengabdi kepada Allah dalam sikap dan perbuatan kita, dalam tutur kata kita. Perjalanan menuju Allah membutuhkan kesabaran dan hati yang suci. Sudahkah kita bersedia menghadap Allah dalam kemuliaan-Nya? Bagaimana kita bisa menghadap hadirat Allah jika ciptaan-Nya saja kita abaikan?

(Fr. Marselinus Ora Wara)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini