Refleksi: “Mewujudkan Pertobatan yang Konkret Di Masa Pandemi”

0
1647

Pandemi Covid-19 merupakan sebuah wabah penyakit yang sangat berbahaya dan muncul kurang lebih hampir dua tahun yang lalu. Munculnya wabah Covid-19 ini, sangat berdampak bagi proses aktivitas dunia. Di mana kita tidak dapat melakukan aktivitas kehidupan setiap hari dengan bebas. Tetapi sebaliknya aktivitas kita hanya dibatasi. Bahkan, komunikasi antara satu dengan yang lain pun tidak berjalan dengan normal dan semestinya. Dengan keadaan seperti ini, ada rasa bosan muncul dalam diri saya, karena segala rencana kita tidak dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan. Keadaan seperti ini sejenak membuat saya berpikir bahwa saat ini kebebasan kita telah direnggut oleh wabah ini. Rintihan demi rintihan kita sampaikan kepada Tuhan lewat doa dan perayaan Ekaristi; berharap mendapat jawaban dari Tuhan yakni dengan hilangnya wabah yang saat ini masih berkuasa di dunia yang tercinta ini. Tidak hanya itu saja, terkadang pula kita marah bahkan berontak kepada Tuhan dengan bertanya mengapa sampai sekarang wabah ini belum juga hilang? Apakah Tuhan tidak mau membantu dan  membiarkan kita semua menderita  sampai ada yang harus kehilangan nyawa? Rasanya rintihan itu tidak berguna dan tidak dapat membuahkan hasil jika kita hanya mengeluh tanpa berbuat apa-apa. Oleh sebab itu, perlu ada pembaharuan dan pertobatan yang konkrit dalam pribadi kita dan merenungkan apa yang harus saya lakukan agar terbebas dari bahaya.

Dengan keadaan ini, saya menyadari bahwa kita perlu melakukan sebuah tindakan pertobatan yang nyata dalam hidup. Pertobatan yang konkrit dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana yakni menaati aturan protokol kesehatan dengan baik dan benar, sebab saya menyadari bahwa masih banyak orang termasuk saya yang masih bersikap acuh tak acuh terhadap wabah ini. Perlu juga adanya sikap belas kasih dan solidaritas satu dengan yang lain. Peka dan peduli terhadap sesama kita apa lagi dalam kehidupan berkomunitas yakni dengan saling menolong satu dengan yang lain dalam hal apa pun apa lagi itu demi keselamatan kita bersama. Secara pribadi saya merasa juga bahwa  yang tidak kalah penting yakni mendekatkan diri kepada Tuhan, mendekatkan diri bukan berarti kita datang kepada-Nya hanya pada saat mengalami keterpurukan dalam menghadapai masalah seperti saat ini, tetapi mendekatkan diri dengan penuh kesadaran bahwa kehidupan saya berasal dari Tuhan sendiri maka saya harus selalu dekat dengan Dia seperti rajin dan datang tepat waktu mengikuti Misa. Saya melihat dan menyadari bahwa selama ini, sebagai calon imam saya sendiri juga belum mendekatkan diri kepada Tuhan dengan baik. Maka, perlu pertobatan konkrit yang harus dilakukan: mengikuti dan menjalankan aturan, ada kepedulian satu dengan yang lain dan semua itu disatukan dengan mengikuti Misa tepat waktunya. Dengan demikian, saya yakni dan percaya, hidup akan damai dan kita semua akan selalu dimampukan dalam menjalani kehidupan dan menanggapi panggilan Tuhan untuk kelak menjadi imam-Nya yang baik.

(Fr. Wandilinus Gleko)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini