Refleksi: “Tenggelam dalam Kemalasan”

0
2733

Malas merupakan sifat negatif yang terdapat dalam diri setiap orang. Siapapun pasti pernah merasa malas ketika hendak melakukan sesuatu, terutama akan hal-hal yang tidak disukai untuk dilakukan. Namun, malas juga ada batasnya. Tidak mungkin setiap manusia hidup terus-terusan dalam kemalasan. Tetapi, bagaimana dengan mereka yang telah tenggelam dalam kenikmatan hal-hal yang ditawarkan oleh kemalasan?

Mungkin pertanyaan inilah yang selalu membayangi diri saya ketika mengakhiri Ujian Semester. Dan masuk dalam masa liburan dalam seminari yang lumayan panjang. Banyak jadwal yang berubah dan sangat berbeda dari yang biasanya. Jadwal-jadwal seperti jam pribadi yang banyak dan juga jam bangun pagi yang agak lebih lama, membuat saya terlena. Hal-hal positif seperti rajin bangun pagi dan kerja perlahan-lahan mulai menghilang. Bahkan setelah dipikir-pikir kembali, mungkin hal-hal itu sudah mulai memudar semenjak masa-masa sebelum ujian. Kini, hal-hal positif itu sudah jarang sekali saya lakukan.

Ketika tenggelam dalam kemalasan, saya benar-benar berubah dan selalu berakhir ke hal-hal yang negatif. Jam bangun pagi saya kini menjadi ±15 menit sebelum jam Ibadat Pagi. Dari hal tersebut, berbagai hal negatif saya alami. Seperti mandi terburu-buru sehingga jadi tergesa-gesa ke kapel, saya alami. Bahkan saya pernah tidak ikut misa harian karena hanya ingin menuruti keinginan malas saya. Adapun sering kali, saya malas berjalan ke  refter besar. Saya lebih memilih tidur daripada makan. Sungguh suatu sikap yang buruk sekali.

Setelah merenungkan berbagai perbuatan bodoh yang sudah saya lakukan tersebut, tentunya hal pertama yang saya inginkan ialah berubah. Namun, entah mengapa rasanya sangat sulit untuk keluar dari kenikmatan ini. Saya sempat berpikir bahwa mungkin dengan kembalinya jadwal yang biasa, maka saya juga dapat kembali memiliki hal-hal positif dan hidup seperti sebelum-sebelumnya. Tetapi saya juga berpikir bagaimana jika sementara menunggu hal itu terjadi, saya justru akan semakin tenggelam ke dalam kemalasan. Dan pada akhirnya tidak dapat kembali ke permukaan lagi.

Saya tidak ingin berada dalam kuasa kemalasan, itulah yang saya putuskan. Agar tidak berada dalam genggaman kemalasan, kita perlu melawannya dengan membangkitkan kembali kebiasaan-kebiasaan positif. Kenikmatan yang ditawarkan oleh kemalasan memang sangat luar biasa. Kita bisa hidup dengan‘bebas’ tanpa beban dan derita. Tetapi sayang, hal itu hanya sementara dan tidak bisa menjamin hidup yang benar-benar bahagia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini