Refleksi: “Ketulusan Cinta”

0
1940

“Biasa sa cinta satu sa pinta jang terlalu mengekang rasa karna kalau sa su bilang sa trakan berpindah karna su sayang…”. Lagu “Karna Su Sayang” asal Indonesia Timur yang dinyanyikan oleh Dian Sorowea dan Near, sempat menghebohkan penikmat musik tanah air pada 2018 lalu. Lagu ini sempat menarik perhatian para kaum muda karena lagunya dilantunkan dengan suara yang merdu dari seorang Dian Sorowea. Pasalnya, lagu tersebut menceritakan tentang sepasang kekasih yang mengungkapkan rasa cintanya. Bahkan, mereka berjanji untuk tidak saling menduakan.

Hal mencintai, mengasihi dan menyayangi tidak bergantung pada keterbaasan-keterbatasan tertentu, terbatas jarak dan waktu, kondisi fisik atau psikis, kemapanan, prestasi, dan lain-lain. Bagaimana dengan mereka yang difabel, berasal dari keluarga yang kurang mampu, para pengidap kanker, kusta atau penyakit-penyakit menular lainnya? Apakah mereka tidak pantas dicintai? Siapakah orang yang tidak bahagia bila disayangi, diberi perhatian atau dipedulikan oleh orang lain?

Semua orang pantas dicintai bagaimanapun keadaannya. Bukan manusia yang menjaminnya, melainkan Tuhan karena setiap agama mengajarkan cinta kasih bagi para pemeluknya. Cinta Allah itu murni, cinta-Nya tidak pilih-pilih, bahkan cinta-Nya tak dapat diukur oleh kekayaan harta benda manusiawi. Cinta-Nya dapat dibuktikan lewat pengorbanan-Nya yang luar biasa yang rela dihina, dilecehkan, dipukul, dicambuk bahkan sampai wafat di kayu salib. Semua karena Tuhan sudah menyangi dan mencintai kita umat-Nya. Saking cinta-Nya pada kita, Dia tidak ingin manusia mati binasa dan sia-sia, sehingga Dia mengekspresikan cinta-Nya sedemikian rupa.

Jika anak-anak, remaja dan muda-mudi yang sedang dirundung cinta dan asmara, belajarlah dari Tuhan Yesus sebagai sumber cinta itu. Ungkapkan dan terapkanlah cinta tulus itu dengan benar bukan cinta yang pilih-pilih, bukan cinta karena keinginan lahiriah dan bukan cinta yang lupa diri. Jadilah pribadi yang penyayang. Sayangilah siapapun apa adanya, tanpa melihat latar belakang kehidupannya. Tidak perlu berkoar-koar untuk mengungkapkan rasa cinta kasih lewat mulut manis, melainkan cinta kasih harus bersemayam dalam hati, mewujudkannya dalam ucapan dan perbuatan.

Cinta harus disebarkan kepada siapapun, kapan dan di manapun kita berada. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Bunda Teresa dari Calcuta, “Sebarkanlah cinta ke manapun engkau pergi. Jangan ada seorangpun yang datang padamu tanpa perpisahan yang lebih membahagiakan”.

(Fr. Vitalis Irman Bille)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini