Panggilan merupakan suatu anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada setiap pribadi manusia. Setiap manusia dipanggil untuk mengikuti Tuhan, meskipun panggilan itu berbeda-beda tetapi mempunyai tujuan yang sama. Panggilan itu juga tergantung bagaimana manusia menanggapi panggilan Tuhan itu. Sebagai contoh, saya sekarang dipanggil Tuhan untuk mengikuti Dia sebagai calon imam meskipun saya sadar bahwa saya masih banyak kekurangan dan keterbatasan. Dalam menjalani panggilan ini banyak suka dan duka pengalaman yang saya alami. Pengalaman suka dan duka itulah yang menghiasi perjalanan panggilan saya sebagai calon imam, agar saya tetap setia dan tabah mengikuti Tuhan yang telah memanggil saya.
Mengikuti Yesus harus berani meninggalkan segala-galanya seperti dikatakan dalam Kitab Suci. Sebagai calon imam yang suatu saat akan menjadi imam, harus juga berani meninggalkan segala-galanya seperti keluarga, harta dan wanita. Seorang imam akan menjadi milik banyak orang bukan hanya milik keluarga. Mengikuti Kristus harus berani berkorban seperti Kristus yang menggorbankan nyawa-Nya demi menebus seluruh dosa-dosa umat manusia. Meskipun itu bukan suatu hal yang mudah, bagi pikiran manusia berkorban itu sulit untuk dilakukan manusia, tetapi jika kita percaya akan kasih dan pertolongan Tuhan, maka Tuhan akan menyertai dan membantu kita terutama dalam proses perjalanan kehidupan dan panggilan kita.
Peran keluarga sangat penting dalam proses pengembangan panggilan calon imam, karena melalui keluarga tumbuhlah benih-benih panggilan calon imam. Sehingga bisa dikatakan bahwa keluarga merupakan seminari pertama. Dorongan dan motivasi yang kuat dari keluarga bisa membuat saya untuk tetap setia menjalankan panggilan ini, sehingga kelak saya bisa menjadi imam. Keluarga juga akan mempunyai kebanggaan dan kebahagian tersendiri jika mereka mempunyai seorang anak yang sudah menjadi imam. Meskipun begitu seorang imam bukan hanya menjadi milik keluarga melainkan milik Gereja dan banyak orang, karena seorang imam harus membaktikan diri kepada Gereja dan umat beriman demi karya keselamatan Allah.
Bagi saya menjadi imam itu urusan selanjutnya, yang terpenting adalah berusaha menjawab panggilan Tuhan itu dan berusaha menjalani panggilan itu dengan baik dan penuh sukacita. Karena menjadi imam tidaklah mudah dan banyak rintangan dan cobaan yang harus dilalui. Saya menyadari bahwa perjalanan panggilan saya masih panjang dan belum tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Tetapi saya mau katakan, jika suatu saat nanti saya ditahbiskan menjadi imam, saya sangat bersyukur. Tetapi jika tidak saya juga tetap bersyukur karena Tuhan telah memanggil saya meskipun di jalan yang lain.
(Fr. Krisjumon Tohea)











