Mengapa memilih menjadi seperti sekarang? Apa saja suka dan dukanya? Bagaimana perasaan anda selama berada di lingkungan yang anda pilih? Tantangan apa saja yang dihadapi? Berbagai pertanyaan perihal kehidupan seperti demikian bisa menjadi momok bagi sebagian orang. Terlebih bila orang yang dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut tengah berproses dalam jalan pilihan hidupnya. Pertanyaan adalah bagian dari kehidupan. Karena seseorang bertanya, maka ia menjadi tahu. Dengan kata lain, sebuah pertanyaan dapat mengungkapkan realitas – kenyataan yang terjadi pada diri seseorang atau banyak orang. Di samping itu, sebuah pertanyaan dapat menentukan jalan hidup seseorang. Maksudnya adalah ketika seseorang mempertanyakan “apa maksud ia dilahirkan di dunia ini” atau secara singkat dapat dikatakan “apa tujuan hidupnya”, maka ketika itu pula ia akan mencari, berproses, lalu akhirnya menemukan jalan hidupnya.
Bagi kami yang memilih jalan hidup untuk menjadi imam Katolik, bukanlah hal yang mudah ketika berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Agak miris bila mengatakan situasi tersebut sebagai suatu pergumulan, karena kami telah memilihnya. Memilih jalan hidup itu idealnya harus disertai dengan konsistensi. Namun apa daya bila ‘dunia ini terus berputar’. Tapi untuk tetap bisa berdiri tegar, kami harus mempunyai prinsip, ‘dunia berada dalam genggaman’ – bukan dunia yang mengendalikan saya, tetapi saya yang mengendalikan dunia. Intinya adalah jangan sampai dipecundangi oleh dunia. Benar bila ada yang mengatakan bahwa dunia dapat membuat orang jatuh ke dalam pergumulan. Itu merupakan hal yang wajar. Tetapi menjadi tidak wajar kalau orang yang jatuh itu terbawa terus-menerus dalam pergumulannya, dan menjadi sekedar ‘ikut arus’. Oleh karena itu, saat seseorang sedang bergumul, bukan hanya sekedar mengolah pikiran tetapi juga mengolah batin serta mengandalkan doa.
Pada waktu mendapatkan tugas pelayanan pesta natal di tahun 2016, saya berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas. Pertanyaan yang paling berkesan yaitu “Frater, bisakah nantinya menjadi seorang pastor?”. Sangat sulit untuk menjawab dengan memberi suatu kepastian, entah itu “ya” atau “tidak”; sebab tidak ada seorang pun yang tahu pasti tentang masa depannya. Saat itu saya menjawab: semoga Tuhan merestui. Pertanyaan seperti itu cukup menyentil hati saya. Bagaimana tidak? Ketika pertanyaan itu dilayangkan, seketika itu juga muncul pertanyaan di dalam hati saya, “Pantaskah saya menjadi seorang pastor?”. Selain itu, pertanyaan tersebut menyiratkan sebuah harapan – harapan umat yang menginginkan fraternya menjadi seorang pastor. Berjuang dengan membawa harapan dari orang-orang yang dikenal bukanlah hal yang mudah. Tapi itulah konsekuensi dari pilihan hidup. Setiap pilihan hidup tentu saja melibatkan orang lain di dalamnya, sebab kita tidak hidup sendiri.
(Fr. Ans Samandi)











