Refleksi: “Terjebak di antara Dua Pilihan”

0
1547

Senin, 9 Februari 2015. Hari yang tidak terlupakan. Hari pertama saya menjalankan Bulan Orientasi Masyarakat (BOM) dan hari di mana ada kerinduan yang tidak tersampaikan.

Kayumoyondi. Desa tempat saya menjalankan BOM. Awalnya tiga hari pertama berjalan dengan indah. Namun hari keempat, semuanya berubah. Ada tangis dan teriak, yang muncul dalam diri ini. Ada rasa tak sanggup dan tak terima akan semua ini. Semua semangat yang ada terasa pudar bahkan sirna.

Jumat, 13 Februari 2015. Saya pulang dan ingin sekali mengakhiri perjuangan ini. Semuanya terasa sudah berakhir. Apalagi ketika menginjakan kaki di halaman rumah dan masuk ke kamar. Atmosfernya tak seperti biasanya. Sontak saya menangis di pundak papa. Saya belum dapat menerima kalau mama sudah tiada.

Sabtu, 14 Februari 2015. Bagi sebagian orang, itu hari valentine day. Tapi tidak bagi saya. Hari itu menjadi hari terakhir saya bersama mama. Sedih, jika ditanya kenapa? Alasannya jelas, saya belum siap untuk berpisah dengan mama, apalagi saya tidak berada dengannya di waktu terakhirnya.

Peristiwa ini sungguh membuat saya dilema. Saya bingung, seakan-akan semuanya terasa berakhir. Waktu itu saya sudah memutuskan untuk berhenti dan sampai di etape ini saja. Namun di telinga saya, selalu terngiang kata, ‘lanjut…lanjut…lanjut…’. Sungguh peristiwa ini membuat saya terjebak, entah mau memilih yang mana.

Senin, 23 Februari 2015. Pilihan itu mendapatkan jawabannya. Saya kembali ke tempat BOM. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa. Peristiwa ini bukan untuk melemahkan tetapi untuk menguatkan.

Hari-hari selanjutnya diwarnai dengan menekuni suatu pekerjaan marjinal. Mungkin bagi sebagian orang mustahil, tak percaya, bahkan ada keraguan, ketika saya memilih untuk bekerja sebagai seorang buruh pembuat batako dan paving blok. Bisakah seorang bertubuh kecil melakukan hal ini? Ya bisa, tubuh bukanlah penghalang.

Minggu, 31 Mei 2015. Semua indah pada waktunya. Jubah putih panjang melekat indah di tubuh saya. Bagi saya, inilah jubah kehormatan yang tidak dapat dimiliki semua orang. Andai saja waktu itu, saya mengakhiri perjuangan itu. Berarti saya tak dapat memakai jubah indah hari tersebut. Syukurlah saya berani mengatakan, “YA” untuk melanjutkan.

Di sini saya belajar bahwa terkadang ketika kita berada dalam situasi dilematis, dengan mudahnya kita jatuh. Ketika kita jatuh, sakit rasanya. Demikian ketika kita jatuh dalam hal membuat pilihan yang sembarangan saja. Pilihan yang tanpa pertimbangan dan pemikiran panjang.

Dalam situasi dilematis tersebut, kita diharapkan bijak. Jangan terlalu cepat menentukan pilihan. Berilah waktu tenang untuk dirimu. Sehingga pada waktunya kamu siap untuk menentukan pilihan dengan baik, dengan pertimbangan dan pemikiran yang panjang.

Pilihan yang baik tentu tak akan mengkhianati hasil. Demikan halnya, pilihan untuk lanjut = jubah putih panjang. Inilah persembahan, tanda hormat, dan kerinduan untukmu mama.

 (Fr. Itho Gerhani)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini