Refleksi: “Pilihan”

0
1942

Ada cerita menarik yang ingin saya bagikan kepada kita semua. Pada suatu hari, seorang bayi mungil ditinggalkan begitu saja oleh ibunya di tempat sunyi. Semalam-malaman ia menangis tersedu-sedu, berharap akan belaian tangan sang bunda. Tangisan anak kecil itu disertai dengan suara-suara mahkluk malam membuat tempat tersebut semakin seram. Beberapa pemuda yang lewat dari lorong tersebut, mendengar suara tangisan. Tapi karena ketakutan, mereka meninggalkan bayi mungil yang menagis. Hal identik juga terjadi pada ibu-ibu yang baru pulang dari pasar.

Sebuah senter kecil menuntun langkah lantun kaki. Dari kejauhan terlihat  sosok ibu tua dan rapuh, berjalan menuju ke tempat tangisan itu. Perlahan tapi pasti ia mendekati anak itu, melihat matanya yang suci, ia berkata dalam hati, “Ya Tuhan, Terima Kasih atas anugerah ini”. Sambil bersyukur, ia membawa anak tersebut pulang ke tempat kediamannya.

Ibu yang membuang bayi menyimbolkan situasi saat ini yang tidak bisa menerima perubahan. Terkadang pergaulanlah yang menyebabkan seorang salah melangkah. Akibat pergaulan yang tak terkontrol, seseorang bisa saja menjadi korban keganasannya pergaulan. Perubahan yang cepat menyangkut aspek-aspek fundamental dalam hidup memberi peluang besar bagi kemajuan. Namun di samping itu, memberi ruang yang besar pula bagi kesenjangan sosial. Orang yang belum bisa menyesuaikan diri dengan perubahan tekadang salah menentukan arah dan tujuan hidupnya.

Dalam menjalani pilihan, secara tak sadar kita bertindak bagaikan para pemuda yang berada di sekitar lorong itu. Sikap yang ditunjukkan sebenarnya adalah sikap takut. Rasa takut adalah suasana di mana seseorang tidak lagi mampu menggunakan akal sehatnya. Ketakutan merenggut akal untuk memutuskan sesuatu. Rasa takut mendorong kita bungkam entah itu untuk berbicara, berpikir dan bertindak.

Sang bayi menandakan siapa saja yang tulus dan jujur dalam hidup. Ketulusan itu menandakan sikap kerahiman. Ketika kita tulus dalam memilih, maka kita juga harus tulus dalam menjalani. Apabila kita memilih sesuatu, maka kita juga harus berani berjalan bersamanya dengan sikap jujur

Ibu tua tadi menyimbolkan Tuhan Sang Penolong. Tuhan tidak penah lalai dalam menyediakan apa yang kita butuhkan. Tuhan adalah sosok yang selalu membuka tangan untuk memberkati kita. Kasih Tuhan lebih besar dari kasih seorang ibu. Ibu menunjukkan perhatian yang luar biasa dalam kehidupan kita. Tetapi percayalah,Tuhan jauh lebih mengenal kita. Tuhan mengenal kita melampaui pengenalan kita terhadap diri sendiri.

            (Fr. Salfatoris Duarmas)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini