Menurut informasi dan pengamatan terhadap situasi dan cara hidup manusia zaman sekarang yakni berkaitan dengan cara hidup beragama dan beriman, nampaknya ada tiga kategori orang beriman dan beragama.
Pertama, ada orang beragama sekaligus beriman. Kedua, ada orang beragama tetapi tidak beriman, dan ketiga, ada orang beriman tetapi tidak beragama. Tiga kategori tersebut merupakan fakta fenomenal yang dihidupi masyarakat dewasa ini.
Pada kategori pertama, orang beriman dalam sebuah agama. Seorang mengalami pengalaman iman dalam konteks ajaran agama yang ia imani. Pengalaman-pengalaman iman yang ia jumpai dalam kehidupannya sejalan dengan ajaran agama yang dianutnya. Maksudnya adalah ajaran iman agama yang ia percayai, dialaminya dalam kehidupannya. Atas pengalaman imannya itu ia kemudian memeluk agama yang mengajarkan ajaran yang sejalan dengan pengalaman imannya.
Pada kategori kedua, seorang beriman tetapi tidak beragama. Di sini seorang menjumpai pengalaman-pengamalan iman dalam hidupnya tetapi tidak memeluk suatu ajaran agama manapun. Ia percaya bahwa Tuhan menyelenggarakan hidupnya. Akan tetapi penghayatan akan Tuhan itu tidak dihayati dalam konteks ajaran agama manapun.
Ketiga, yakni beragama tetapi tidak beriman. Pada kategori ini orang memeluk suatu agama tetapi ia tidak mengalami pengalaman-pengalaman iman dalam hidupnya. Ia tidak menjumpai Tuhan dalam hidupnya. Orang demikian memeluk sebuah agama hanya karena tuntutan dari banyak faktor. Misalnya ia memeluk sebuah agama karena beragama adalah keharusan dalam pernikahan dan sebagainya.
Bagi saya, kategori kedua dan ketiga tidak dapat dipertangungjawabkan. Kategori kedua tidak dapat dipertanggungjawabkan, sebab Tuhan dikenal melalui pewahyuan-Nya. Pewahyuan itu diwartakan dalam agama. Maka tidak masuk akal bila seorang beriman tetapi tidak beragama. Tidak dapat disangkal bahwa orang beragama juga dapat mengalami pengalaman akan penyelenggaraan ilahi dalam hidupnya. Tetapi mengenal Tuhan dengan lebih baik hanya lewat pewahyuan-Nya, dalam agama.
Kategori ketiga sangat sederhana. Orang beragama tetapi tidak beriman. Sederhananya adalah orang yang tidak bertuhan (ateis). Memeluk agama baginya adalah sebuah formalitas, mungkin karena takut dijauhi oleh masyarakat di mana ia berada, karena kebijakan permerintah dan juga karena tuntutan situasional lainnya. Dalam konteks yang sama, ada juga orang yang menganggap dirinya sebagai orang beragama yang unggul, yang hebat dalam ilmu agama, tetapi sebenarnya ia tidak beriman.
Terus terang saja, beberapa kali kita menemukan hidup kita beragama tetapi tidak beriman. Memang, kegiatan-kegiatan keagamaan kita ikuti; seperti perayaan ekaristi dan ibadat-ibadat lainnya dalam Gereja Katolik. Namun kadang kala itu bukanlah sebuah ungkapan iman. Itu hanyalah merupakan kewajiban semata yang dituntut oleh lembaga di mana kita berada, di mana kita tinggal. Demikian, itu tidaklah benar. Beragama dan beribadat haruslah menjadi sebuah ungkapan iman yang timbul dari keinginan hati yang mau percaya dan berserah kepada penyelenggaraan Ilahi.
(Fr. Alosius Bala Sumarre)











