Refleksi: “Dalam Keterbatasan Ada Kesempurnaan”

0
3668

Pengalaman untuk hidup dalam keterbatasan tentunya dialami oleh setiap orang. Hidup dalam keterbatasan inilah yang dialami oleh saya selama dua hari bersama dengan teman-teman yang ada di Panti Tuna Sosial St. Anna Tomohon.  Ketika berada  bersama-sama dengan teman-teman yang ada di sana, saya merasakan bahwa nilai kepedulian itu ada dalam diri mereka semua. Kepedulian dalam keterbatasan itu memang dialami oleh setiap person yang berada di tempat itu, sehingga hal itu tentunya memiliki makna tersendiri untuk dimaknai di dalam kehidupan saya sebagai seorang calon imam.

Ketika berada bersama dengan teman-teman yang ada di SLB, sebetulnya saya melihat bahwa nilai kepedulian itu yang terus dihidupi oleh mereka mulai dari bangun pagi sampai istirahat malam. Hal itu membuat saya merefleksikan bahwa dalam keterbatasan mereka, kepedulian itu tidak hilang dari diri mereka semua.

Nilai kepedulian itu dapat dialami dan dirasakan oleh mereka semua sehingga, ketika berada di tempat mereka, saya membayangkan bahwa dalam keterbatasan, mereka masih memiliki kepedulian apalagi saya sebagai calon imam yang tentunya kelak akan lebih dekat dengan umat tentunya nilai kepedulian itu hendaknya selalu ada dalam diri.

Kebersamaan merupakan sebuah hal yang dialami oleh saya ketika bersama-sama dengan teman-teman yang ada di SLB. Banyak hal tentang kebersamaan ini diungkapkan lewat kata maupun tindakan. Saya sungguh merasa bangga karena kebersamaan itu nampak kental dalam diri mereka semua yang ada di SLB.

Jarang sekali melihat bahwa mereka sendiri-sendiri melainkan mereka semua berkumpul dan melakukan apa yang sesuai dengan keinginan mereka. Misalnya lewat rekreasi bersama, makan bersama, doa bersama, kerja bersama, dan lain-lain.

Dalam kebersamaan itu, banyak hal yang dilakukan oleh mereka seperti berlari-lari, bercerita, main kartu, menari, main sepeda, main bola, menyanyi, dan lain-lain. Semua itu mengungkapkan kegembiraan yang dialami dan dirasakan oleh mereka masing-masing sehingga tidak heran mereka selalu gembira setiap saat.

Dalam kebersamaan itu pula dapat dilihat bahwa mereka, baik yang orang tuanya jauh atau sudah tidak ada, selalu ceria dalam menjalani kehidupan setiap hari. Kadang dalam kebersamaan itu ada yang mengungkapkan kerinduan mereka dengan bermain sepeda dengan maksud bahwa sepeda sebagai sebuah kendaraan yang dapat menghantar mereka pada orang tua. Itulah ungkapan kerinduan yang bagi saya sebetulnya sungguh mendalam. Sayang, karena keterbatasan yang dialami, mereka harus dibina di tempat itu.

Dari apa yang dialami dan dirasakan oleh mereka semua, saya melihat bahwa tiada kebahagiaan tanpa kebersamaan yang terjadi di antara mereka semua. Dengan kebersamaan itu mereka terhindar dari pikiran yang aneh-aneh. Saya sungguh merasakan bahwa  kebersamaan yang dialami dan dirasakan oleh mereka semua dapat menguatkan saya sebagai calaon imam untuk terus berjuang lewat kebersamaan dengan teman-teman yang lain. Bercerita bersama, nonton bersama, main billiard, main tenis meja atau pun kegiatan yang lain justru menguatkan saya untuk terus dalam panggilan ini. Saya merasa bahwa  kebersamaan itulah yang terus membuat saya tetap kuat hingga sekarang dan selalu dalam menjalani panggilan ini.

Apa yang saya petik dari pengalaman ini? Di dalam keterbatasan ada kesempurnaan. Dalam keterbatasan yang dialami oleh mereka tentunya tersimpan kesempurnaan yang memang patut diapresiasi. Hal ini dapat dilihat dari kreativitas dari mereka masing-masing. Dalam keterbatasan itu, ada yang dapat mengikuti lomba atau pun memiliki bakat yang di luar dugaan. Hal itu tentunya menjadi sebuah tantangan sekaligus motivasi bagi saya dalam menjalani panggilan ini.

Sebuah pertanyaan yang mendasar yakni kenapa dalam keterbatasan itu mereka bisa bersukacita ? Dan kenapa saya tidak lebih dari mereka? Refleksi ini memiliki makna yang mendalam dan luhur. Aku jadi teringat lirik lagu yang biasanya diputarkan dan didengarkan ketika berada di SLB: “Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik. Jangan menyerah, jangan menyerah”!

(Fr. Petrus Fransiskus Kowarin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini