Refleksi: “Dia Sungguh Ada!”

0
2214

Apakah Tuhan itu sungguh ada? Ketika bermenung tentang hal ini, pikiran saya tiba-tiba tertuju pada orang-orang yang mengalami bencana, penderitaan, kelaparan, kemiskinan dan hal-hal buruk lainnya. Dalam hati saya bertanya, apakah orang-orang ini dalam kesusahannya juga melontarkan pertanyaan yang sama: apakah Tuhan itu sungguh ada?

Di sisi lain saya melihat ada orang-orang yang mengalami kebahagiaan dalam hidupnya. Apakah mereka ini juga dalam hidupnya menanyakan hal yang sama: apakah Tuhan itu sungguh ada?

Secara khusus saya mengalihkan perhatian kepada orang-orang yang berkeyakinan bahwa Tuhan itu tidak ada: kaum atheis. Mereka ini sudah jelas tidak mengenal Tuhan. Tetapi realitas menunjukkan bahwa ada orang atheis yang hidupnya jauh lebih baik dan lebih sejahtera daripada orang-orang yang beriman kepada Tuhan. Mengapa demikian? Saya kembali bermenung.

Saya dilahirkan dalam keluarga Katolik, dibesarkan dengan pelbagai didikan dan ajaran Gereja Katolik. Tetapi, apakah saya sungguh-sungguh sudah Katolik? Apakah saya sudah sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan?

Tidak ada yang patut dipersalahkan. Pertanyaan yang sama berlaku juga untuk mereka yang beragama lain. Seandainya saja ada orang yang beragama bertemu dengan seorang atheis dan bersoal-jawab tentang Tuhan, apa yang akan terjadi?

Kita mungkin bisa berbangga diri bahwa kita orang beragama, dan bahwa kita ber-Tuhan. Jika demikian, apakah Tuhan itu ada? Di mana Tuhan saat terjadi bencana dan peperangan? Di mana Tuhan saat terjadi perselisihan dalam rumah tangga? Lalu, sampai sejauh mana saya mengenal Tuhan yang saya sembah?

Sejenak saya teringat kembali akan perkataan Paus Fransiskus: “Bahkan seorang atheis pun dapat masuk Kerajaan Surga atas kuasa pengampunan Kristus.” Kadang saya berpikir, lebih baik saya menjadi seorang atheis daripada seorang beragama yang ‘tidak mengenal Tuhan’.

Dikenal atau tak dikenal sekalipun, Tuhan tetap ada. Tidak, kata “Tuhan” itu sendiri kadang terbatas, karena hanya digunakan oleh orang-orang yang beragama untuk menyebut sesuatu yang mereka sembah. Ya, ‘Sesuatu’, ‘Sesuatu Yang Lain’. “Sesuatu Yang Lain” ini tidak terbatas. Sampai kapanpun, pemahaman manusia tidak dapat mencapai pengetahuan yang sempurna tentang “Sesuatu Yang Lain” itu.

Tapi “Sesuatu” itu sungguh ada. Dia ada untuk semua orang, tidak hanya untuk mereka yang beragama tetapi juga untuk mereka yang tidak mengenal-Nya. Dia ada untuk segala sesuatu yang Dia ciptakan. Ya, memang… Dia sungguh ada! Tidakkah kamu merasakan-Nya?

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah Kasih” (1Yoh. 4:8)

(Fr. Faustinus Kebubun)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini