“Harapan Dan Sukacita” : Renungan, 25 Desember 2022

0
874

HARI RAYA NATAL (P)

BcE Yes. 62:11-12 ; Tit. 3:4-7 ; Luk. 2:15-20

Di hari Natal yang membahagiakan ini kita mendengar sebuah cerita yang membangkitkan harapan dan sukacita untuk umat manusia. « Para gembala cepat-cepat berangkat ke Bethlehem dan mendapati Maria dan Yosef serta Bayi yang terbaring di dalam palungan » (Luk. 2:16). Allah menjadi manusia dalam kehidupan sebuah keluarga sederhana, dalam sebuah kampung kecil, Bethlehem. Allah menjelma dalam rupa seorang bayi lemah yang dibaringkan di dalam palungan. Allah tidak takut memasuki kehidupan keluarga yang sederhana, tidak ragu masuk dalam desa yang sunyi dan tak diperhitungkan, tidak enggan masuk ke dalam kemanusiaan kita yang lemah.

Inilah berita sukacita untuk kita yang lain kali pesimis memikirkan kehidupan keluarga kita, tempat tinggal kita atau dunia kita. Inilah kabar gembira untuk kita yang acapkali takut menghadapi keadaan hari esok dan tahun yang baru. Inilah kekuatan baru untuk kita yang tak jarang putus asa berhadapan dengan persoalan-persoalan hidup bangsa kita sekarang ini.

Kalau dipikir sepintas, apa yang dibuat Tuhan ini sungguh kecil, tak mungkin mengatasi persoalan umat manusia. Tetapi, apa yang dibuat Allah ini sungguh luar biasa. Kata orang bijak : « Small can also be perfect », kecil dapat juga menjadi sempurna. Rasul Paulus menegaskan bahwa kita semua, dengan awal kecil dan sederhana, telah dilahirkan kembali berkat permandian dan pembaruan yang dikerjakan Roh Kudus yang sudah dilimpahkan Tuhan kepada kita berkat Yesus Kristus (Tit. 3:5-6). Inilah yang menjadi sumber optimisme bagi kita untuk membangun dunia sambil mengharapkan hidup yang kekal.

Di tengah optimisme itu, Beata Teresa dari Kalkuta menyemangati kita: « Jika kita tidak bisa memberi makan seribu orang, berilah makan satu orang ». Jika kita tidak dapat membasmi korupsi di negara Indonesia ini, basmilah korupsi di dalam diri kita, keluarga kita, sekolah kita, dan desa kita. Jika kita tidak dapat membasmi ketidakadilan di negara kita, matikanlah keinginan untuk bersikap tidak adil di dalam diri kita. Harapan yang luar biasa tak jarang mengalir dari hal-hal kecil dan sederhana, tetapi dilakukan dengan cinta yang besar. Tuhan sendiri telah memberikan contoh demikian kepada kita.

(Pst. Ventje F. Runtulalo, Pr)

Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan (Luk. 2 :16).

Marilah berdoa :

Ya Tuhan, bantulah aku untuk mengusahakan apa yang baik, walau sekecil apapun, untuk memberikan pengharapan baru bagi sesama dan dunia. Amin

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini