Pesta S.t. Stefanus, Martir Pertama (M)
Hari kedua dalam Oktaf Natal
BcE. Kis.6:8-10; 7:54-59; Mzm. 31:3a-4,6,8ab,16b,17; Mat. 10:17-22.
Hari ini Gereja merayakan Pesta St. Stefanus. Dia dikenal sebagai seorang martir pertama dan perayaannya ditempatkan setelah Hari Raya Kelahiran Yesus. Stefanus dikenal sebagai seorang beriman yang kokoh dan penuh Roh Kudus. Dia diangkat oleh kedua belas Rasul untuk memangku jabatan diakon atau pelayan meja dan sekaligus pengurus jemaat. Di hadapan Sanhendrin, St. Stefanus dengan tegas membantah semua tuduhan kaum Farisi dan membela karya misionernya di antara orang-orang Yahudi. Pembelaannya diperkuat dengan mengutip kata-kata Kitab Suci yang melukiskan kebaikan hati Allah kepada Israel dan ketidak-setiaan Israel sebagai bangsa terpilih. Ia diseret keluar tembok kota Yerusalem dan dirajam sampai mati oleh pemimpin-pemimpin Yahudi.
Perayaan Natal memang tidak semata-mata sebuah permenungan atas kelahiran yang penuh damai. Sejalan dengannya kita diingatkan akan tantangan yang merupakan masa depan dari kelahiran itu sendiri. Sejalan dengan ini maka kita dapat merenungkan tiga hal yang dapat kita timba lewat peringatan martir Stefanus. Pertama-tama, kepada para murid-Nya Yesus menegaskan : Waspadalah terhadap semua orang! Sebab ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama; dan mereka akan menyesah kami di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke muka para penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Inilah tantangan di masa depan.
Kedua, walaupun telah diwartakan pada malam kelahiran bahwa telah lahir seorang juru Selamat umat manusia, namun ternyata tetap ada orang-orang yang tidak mengenal dan mengetahui pewartaan sedemikian. Pun walaupun karya kerasulan telah sedemikian giat digalakkan namun selalu saja ada orang-orang yang tidak terjangkau oleh pewartaan itu atau bahkan menolaknya sama sekali. Terhadap hal-hal sedemikian kita sungguh telah diingatkan agar senantiasa waspada.
Dan ketiga, kita juga dikuatkan oleh Yesus sendiri dalam menghadapi tantangan masa depan itu. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan Selamat. Penegasan ini sungguh menguatkan kita bahwa penyertaan Tuhan itu tetap bagi mereka yang tetap setia kepada-Nya walaupun ada banyak tantangan.
Bertolak dari beberapa aspek ini maka kita dapat menyadari bagaimana menghidupi makna kemartiran Stefanus pada hari natal ini. Stefanus sungguh memahami dan menghidupi sabda Tuhan hari ini. Ia tahu betul bahwa mengimani Kristus tidak selalu merupakan jalan damai, jalan penuh kemuliaan. Namun, yang ia yakin bahwa jalan yang ditunjukkan oleh Yesus adalah jalan kebenaran, kehidupan dan keselamatan.
Namun, untuk menempuh jalan itu, tidak jarang jalan gelap, jalan terjal, dan penuh ancaman sering merintangi. Yesus sudah mengingatkan itu, “Ada orang yang akan menyerahkan kamu kepada majelis dan mereka menyesah kamu. Namun jangan khawatir, Roh Bapamu yang akan berkata-kata di dalam kamu.” Sabda Yesus itu sungguh menguatkan Stefanus dalam menghadapi segala tantangan dalam tugas kesaksian dan pewartaannya. Ia memang akhirnya wafat, namun wafatnya penuh makna dan kemuliaan.
(Pst. Antonius Baju Nujartanto, Pr.)
“Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat. 10: 22).
Marilah berdoa:
Ya Allah, semoga semangat kemartiran St. Stefanus senantiasa menjadi teladan dalam hidup kami. Amin











