“APA YANG PATUT DIPERJUANGKAN?”: Renungan, Rabu 20 September 2023

0
1430

Pw S. Andreas Kim Taegon dan Paulus Chong Hasang, dkkMrt- Korea (M)

1Tim. 3:14-16; Mzm. 111:1-2,3-4,5-6; Luk. 7:31-35.

Memperjuangkan keinginan orang-orang terdekat kita terkadang dianggap hal yang patut dilakukan dan benar secara moral. Namun hal ini justru membuat kita tidak memiliki integritas diri yang pasti. Kita sibuk memenuhi keinginan orang lain namun lupa dengan keinginan Tuhan dan kebutuhan diri sendiri. Pada akhirnya kita hanya dipandang tak berdaya oleh mereka.

Injil hari ini mengisahkan tentang dua orang hebat yakni Yesus dan Yohanes Pembaptis yang berkarya dengan tulus sesuai dengan misi mereka masing-masing. Namun tidak peduli seberapa keras mereka berusaha, pada akhirnya mereka wafat dengan sangat mengenaskan di tangan orang-orang yang mereka wartakan kabar gembira. Kisah Yesus dan Yohanes pembaptis ini juga serupa dengan kisah Santo Kim Taegon dkk. yang kita rayakan hari ini. Para orang suci dari Korea ini berusaha menyebarkan kabar sukacita, namun yang mereka terima hanyalah hukuman mati dari orang-orang sekitar mereka sendiri. Hal yang menarik dari kisah orang-orang hebat di atas ialah bagaimana mereka mempertahankan sesuatu yang mereka anggap benar hingga akhir hidup mereka. Dengan berbagai pendapat, kecaman, budaya, bahkan berhala duniawi, mereka mampu memperjuangkan nilai hidup yang benar di mata Tuhan.

Pertanyaannya, apakah kita harus memperjuangkan pendapat dunia atau pendapat Tuhan? Dalam hidup kita sebagai orang beriman, terkadang kita mendapat berbagai tekanan atas apa yang kita lakukan. Rasa-rasanya apa pun yang kita lakukan tidak pernah benar di mata setiap orang, dan karena itu benarlah bahwa kita tidak bisa menyenangkan hati setiap orang.  Tanpa kita sadari, kita sudah dikekang oleh standar dunia ini dan menjadikan diri kita boneka bagi orang lain untuk dipermainkan.

Lewat kisah Injil dan perayaan orang kudus hari ini, kita diingatkan kembali untuk menjadi diri kita sendiri. Kita harus ingat akan panggilan dan tugas kita sebagai orang beriman, jangan sampai kita memperjuangkan apa yang seharusnya tidak perlu untuk diperjuangkan. Sebagai umat beriman, kita bukan dituntun oleh opini dunia, tetapi kita memiliki Tuhan sebagai pedoman hidup kita, sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan dalam hidup, dan sesuatu yang justru perlu kita wartakan kepada dunia lewat kesaksian hidup kita.

(Fr. Harley Patty)

“Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis” (Luk 7:32)

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, tuntunlah kami dalam hidup agar mampu memperjungkan ajaranMu di dunia. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini