“Kasih Allah” Renungan: Rabu, 27 April 2022

0
1882

Hari Biasa Pekan II Paskah (P)

Kis 5:17-26; Mzm 34:2-3.4-5.6-7.8-9; Yoh 3:16-21

Dalam kehidupan, seringkali kita terjun ke dalam kegelapan. Kegelapan yang dimaksudkan ialah perbuatan-perbuatan jahat yang kita lakukan dalam hidup kita. Kegelapan itu membuat kita semakin jauh dari terang. Terang itu ialah Allah yang mengutus Anak-Nya, untuk datang menyelamatkan manusia dari kegelapan. Kegelapan itu jugalah yang menyelimuti hati Imam Besar dan para pengikutnya dari mazhab Saduki. Mereka iri hati terhadap para rasul yang memberi pengajaran kepada banyak orang, sehingga mereka memiliki banyak pengikut dan mereka juga dihormati oleh para pengikut mereka.

Saudara-saudari terkasih. Bacaan-bacaan hari ini hendak mengajak kita untuk melihat Yesus sebagai Penyelamat umat manusia. Percakapan Yesus dengan seorang Farisi yang bernama Nikodemus hendak menekankan dua hal penting. Pertama, kasih Allah sungguh sangatlah besar akan dunia ini. Yesus menjelaskan bahwa pribadiNya merupakan penjelmaan Diri Allah yang selalu mengasihi manusia. Meskipun manusia lebih menyukai kegelapan, tetapi Allah selalu menyayangi manusia dengan penuh kasih sayang. Kedua, “Barangsiapa percaya kepadaNya, ia tidak akan dihukum; dan barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang.” Kedua poin ini tentunya mau menyadarkan kita bahwa kasih Allah sangatlah besar bagi kita manusia yang percaya kepadaNya. Oleh karena itu marilah kita bertobat dan selalu percaya bahwa Allah tetap menerima pertobatan kita.

Dalam percakapan dengan Nikodemus, Yesus menjelaskan bahwa Ia datang bukan hanya sebagai utusan Allah, tetapi Ia juga adalah Allah Penyelamat umat manusia. Ia adalah Terang yang menerangi seluruh diri manusia dari kegelapan. Artinya, kedatangan Yesus ke dunia yakni untuk menyelamatkan kita umat manusia. Dan terang itu akan selalu ada untuk menerangi jalan kita agar selalu berada di jalan yang benar dan dapat sampai pada kehidupan yang kekal. Kita sendirilah yang harus membuka diri pada kehadiran Terang itu. Sudah mampukah kita untuk meninggalkan kegelapan dan hidup dalam terang Kristus?

(Fr. Ipel Narwadan)

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16)

Marilah Berdoa:

Tuhan, semoga Engkau menyadarkan dan menumbuhkan imanku kepada-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini