Pw. S. Ambrosius, Uskup dan Pujangga Gereja (P)
Yes 40:1-11; Mzm, 96:1-3.10ac.11-13; Mat 18:12-14.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang besarnya cinta kasih Allah kepada umat-Nya. Bahkan ketika kita hilang ataupun tersesat, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia tidak mau membiarkan kita terus-menerus jauh daripada-Nya. Oleh karena itu, Ia akan berusaha untuk mencari dan menghantar kita kembali kepadaNya. Hal ini ditunjukkan Yesus dengan sangat jelas melalui perumpamaan dalam Injil hari ini.
Seorang tidak pernah menghendaki satu dari kawanan-Nya hilang ataupun tersesat. Bahkan ketika hal itu terjadi, pemilik kawanan domba itu akan meninggalkan kawanan lainnya dan pergi untuk mencari yang sesat itu. Lebih jauh lagi dikatakan bahwa bila ia berhasil menemukannya, lebih besarlah sukacitanya dibandingkan dengan kawanan yang tidak sesat itu. Hal ini mengisyaratkan cinta yang begitu besar seorang pemilik terhadap kawanannya. Hal demikian juga yang selama ini dibuat oleh Allah Bapa terhadap kita kawanan-Nya. Ia selalu menjaga, merawat dan memelihara kita. Bahkan apabila kita tersesat, Ia selalu berusaha untuk mencari dan membawa kita kembali ke dalam pangkuan-Nya.
Pemeliharaan Tuhan itu juga dialami oleh St. Ambrosius yang kita peringati hari ini. Pada saat itu Ia secara tiba-tiba didesak serta dipilih secara aklamasi untuk menggantikan Uskup Auxentius yang meninggal. Tentu saja terpilihnya Ambrosius menjadi sorang uskup tidak lepas dari karya Tuhan yang menghendaki agar umat-Nya hidup baik dan tidak tersesat. Setelah menjadi uskup, Ambrosius mengabdikan seluruh hidupnya pada kepentingan umat. Bahkan ia juga berhasil menjaga kemurnian ajaran iman yang diwariskan oleh para rasul serta berhasil membendung pengaruh buruk ajaran Arianisme. St. Ambrosius juga menulis banyak buku mengenai kebenaran-kebenaran iman kristiani hingga akhirnya digelari Pujangga Gereja.
Itulah bukti cinta kasih Allah yang besar kepada kita. Ia tidak akan pernah membiarkan kita tersesat ataupun hilang. Sebab, Ia tahu apa yang kita butuhkan. Cinta kasih itu pula yang saat ini sedang kita nantikan kedatangan-Nya. Sebab besarnya kasih Allah tersebut, Ia rela mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan kita. Hal tersebut semata-mata dilakukan agar kita tidak hilang ataupun tersesat. Pertanyaannya adalah apakah kita telah siap dalam penantian akan kedatangan Yesus Sang Juruselamat? Semoga kedatangan-Nya sungguh-sungguh dapat membuka mata hati kita agar kita boleh diantar kembali kepada Allah.
(Fr. Valentinus Helyanan)
“Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang” (Mat. 18:14).
Marilah berdoa:
Ya Kristus, gembalakanlah kami dan jangan biarkan kami hilang dari pada–Mu. Amin.











