“Ajakan Menuju Keselamatan”: Renungan, Rabu 11 Desember 2019

0
2046

Hari Rabu Pekan II Adven (U)

Yes. 40:25-31; Mzm. 103:1-2,3-4,8,10; Mat. 11:28-30.

Kebanyakan manusia akan merasa tidak nyaman, bahkan frustasi jika mengalami suatu penderitaan. Seakan-akan penderitaan yang dialaminya adalah akhir dari segala sesuatu. Bahkan, tidak ada harapan untuk bangkit lagi. Manusia yang sedang mengalami penderitaan cenderung selalu menutup diri, menyalahkan setiap orang yang ia jumpai. Bahkan dengan tidak segan menyalahkan Tuhan, bahwa Tuhan tidak pernah memperhatikannya. Namun demikian, ada satu hal yang ia lupa, yakni setiap penderitaan yang ia alami, adalah bagian dari cobaan yang  harus dihadapi setiap manusia. Tetapi di balik itu, Tuhan benar-benar hadir dalam setiap penderitaannya, melihat dan mengukur sampai di mana batas kemampuannya.

Kisah Injil dan juga bacaan pertama hari ini, merupakan suatu inspirasi bagi setiap umat beriman, agar semakin kuat dan setia dalam menghadapi setiap perjalanan hidup baik dalam suka maupun duka. Dalam Injil dikisahkan dengan begitu jelas bahwa Yesus mengajak setiap orang untuk datang kepada-Nya. Mereka yang letih lesu dan berbeban berat, Ia akan memberi kelegaan kepada mereka.

Yesus juga mengajak mereka untuk memikul kuk, yang mana kuk tersebut berasal dari-Nya. Jika kita lihat secara lebih mendalam tentang ajakan Yesus ini, pertama-tama yang ditekankan ialah nilai cinta kasih. Nilai ini Ia berikan kepada setiap umat beriman sebagai patokan. Supaya mereka mampu mengikuti jalan yang telah ditunjukan oleh Yesus, serta mampu melaksanakan setiap permintaan-Nya.

Dalam keseharian hidup kita, tentu ada begitu banyak beban yang kita hadapi. Terkadang menurut kita, beban tersebut terlalu berat, melampaui batas kemampuan kita. Akibatnya kita sering jatuh, menyerah dengan begitu saja dan lari dari kenyataan. Tanpa kita sadari bahwa kuk yang kita pikul tersebut telah diringankan oleh Yesus sendiri ketika Ia datang ke dunia dan menjadi penolong. Artinya, ketika kita sedang mengalami kesulitan, Allah sebenarnya hadir bersama-sama dengan kita, mendampingi kita agar tidak jauh dari-Nya.

Tantangan hidup semakin berat karena pada dasarnya kita sedang jauh dari Allah, kita lupa dan tidak mampu merasakan cinta kasih-Nya. Jika kita menjauhkan diri dari-Nya, tentu kita tidak memperoleh apa-apa. Sebaliknya, jika kita mampu mendekatkan diri kepada Allah maka kita akan memperoleh banyak kasih dan karunia. Seperti yang telah dikatakan dalam bacaan pertama bahwa; “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.

(Fr. Brelianus Susu Ndana)

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28).

Marilah berdoa:

Bapa, bantulah aku untuk melewati tantangan hidup ini. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini