Hari Biasa (H).
Ef. 4:32 – 5:8; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 13:10-17.
Setiap orang pada hakikatnya memiliki perasaan untuk selalu berbuat baik dalam segala hal. Perbuatan baik yang dilakukan selalu mencerminkan cinta kasih Allah bagi dunia. Hal perbuatan baik selalu menghasilkan kebenaran yang pantas untuk diperjuangkan. Akan tetapi kebenaran yang diperjuangkan itu belum tentu diterima oleh semua orang, karena kritikan, gosip, iri hati, dengki, sombong.
Bacaan Injil hari ini melukiskan kebenaran yang sedang diperjuangkan oleh Sang Kebenaran sendiri yakni Yesus Kristus, untuk menunjukkan bahwa dunia semakin menolak adanya kebenaran atas dasar cinta bagi sesama. Misi Yesus adalah menaburkan kebenaran dan menanamkan cinta kasih agar siapapun itu dapat menuai cinta dan kebenaran yang berasal dari Allah.
Perjuangan Yesus untuk menaburkan cinta kasih terlihat dalam mujizat yang dibuat-Nya yakni menyembuhkan seorang wanita yang sudah lama diikat oleh iblis dalam penyakit yang tidak mungkin lagi disembuhkan.
Perbuatan Yesus itu mendapat kritikan keras dari seorang kepala rumah ibadat. Ia tidak melihat perbuatan yang dilakukan Yesus atas dasar cinta kasih Allah bagi manusia, namun hanya berpatokan pada hukum Yahudi yang menghormati hari Sabat.
Yesus datang bukan untuk memusnahkan segala peraturan dalam bait Allah namun untuk menggenapinya atas dasar cinta dan kebenaran. Cinta, karena untuk itulah Allah memberikan Anak-Nya kepada dunia, dan barangsiapa yang percaya kepada-Nya akan memperoleh keselamatan.
Dalam dunia yang semakin modern ini, orang selalu menghubungkan segala sesuatu tentang apa yang diperbuatnya dengan Tuhan. Bahkan apa yang dikehendakinya pun diyakini bahwa itulah yang benar sesuai dengan hukum Allah. Tetapi kita harus mengerti bahwa apa yang dikehendaki manusia sebagai yang benar belum tentu menjadi benar di hadapan Allah.
Maka jika ingin melakukan hal yang benar dengan penuh cinta yang berkenan kepada Allah, haruslah terlebih dahulu bersahabat dengan Allah dalam doa dan karya iman dalam kehidupan setiap hari. Agar kita jangan seperti kepala rumah ibadat yang mengkritik perbuatan cinta Sang Kebenaran, melainkan selalu intim dalam persahabatan dengan Allah. Dekatkanlah diri dengan Allah, maka semua yang kamu lakukan dalam nama Allah pastilah berlandaskan cinta kasih dan membuahkan kebenaran bagi dunia yang fana ini.
(Fr. Innocent Larat)
“Hai ibu, penyakitmu telah sembuh” (Luk. 13:12b).
Marilah berdoa:
Tuhan, tambahkanlah cinta kasih-Mu kepada kami. Amin.











