“Bartimeus”: Renungan, Minggu 28 Oktober 2018

0
4719

Hari Minggu Biasa XXX (H)

Yer. 31:7-9; Mzm. 126:1-2ab,2cd,-3,4-5,6; Ibr. 5:1-6; Mrk. 10:46-52

“Rabuni, supaya aku dapat melihat!”

Itulah permintaan Bartimeus, permintaan yang dilandasi iman yang teguh. Permintaan sedemikian membuat dia mengalami apa yang dimintanya. Yesus membuatnya dapat melihat.

Santo Agustinus mengatakan bahwa beriman berarti meyakini apa yang tidak kelihatan dan buah dari iman sedemikian yaitu melihat apa yang diyakini itu.

Bartimeus adalah seorang buta. Buta berarti tidak melihat kesekitarannya. Sekelilingnya gelap. Tanpa warna. Tak indah. Bukan untuk disyukuri. Bukan alasan untuk tertawa.

Buta sungguh adalah sebuah pengalaman hidup yang kelam nan gelap. Pergerakan terbatas. Begitu juga pekerjaan. Komunikasi pastilah juga tak seperti orang kebanyakan.

Orang dapat mengeluh karena kebutaan ini. Orang dapat pula memberontak. Atau menangisi hidupnya. Atau pula memprotes Tuhan Sang Pencipta.

Tapi Bartimeus tidak demikian. Ia tidak mengeluh dan tidak memberontak. Tidak pula ia menangisi hidup dan memprotes Tuhan Sang Pemberi Hidup. Sebaliknya, ia menunjukkan tiga hal luar biasa.

Pertama, Bartimeus melihat Yesus dengan mata hatinya. Saat Yesus keluar dari kota Yerikho diiringi orang banyak, Bartimeus tidak melihat Yesus dengan matanya. Tapi saat  mendengar bahwa yang lewat itu adalah Yesus dari Nazaret, ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”. Ternyata Bartimeus mengenal Yesus. Ia melihat dan mengenal Yesus dengan mata hatinya.

Kedua, Bartimeus memiliki iman yang luar biasa. Saat dia berseru memanggil Yesus, orang banyak menegurnya supaya diam. Tapi justeru semakin keras Bartimeus berseru. Ia semakin keras menyatakan penglihatan mata hatinya dan keyakinan imannya: “Anak Daud, kasihanilah aku!”.

Ketiga, Bartimeus meminta apa yang penting bagi hidupnya. Ketika Yesus bertanya apa yang dikehendakinya, Bartimeus menjawab: “Rabuni, semoga aku dapat melihat!”.

Melihat dengan mata hati menjauhkan Bartimeus dari sikap dan tindakan mengeluh dan memberontak, menangisi hidup dan memprotes Tuhan. Beriman teguh mengantar Bartimeus pada perjumpaan yang menyelamatkan dengan Yesus. Meminta yang paling penting bagi hidupnya adalah contoh baik bagi kita untuk belajar meminta kepada Tuhan apa yang sungguh kita perlukan dalam hidup kita.

“Rabuni, supaya aku dapat melihat!”

Permintaan Bartimeus mesti juga menjadi permintaan kita dalam doa-doa kita. Agar kita dapat melihat lebih jernih pengalaman-pengalaman kita dan mampu memaknai kesulitan-kesulitan hidup. Agar kita dapat mengagumi keindahan dan keajaiban hidup kita, dan mensyukuri rahmat dan berkat Tuhan untuk keselamatan kita.

(Pst. Ventje Felix Runtulalo, Pr)

“Rabuni, supaya aku dapat melihat!” (Mrk. 10:51).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga imanku menjadi semakin teguh seperti iman Bartimeus.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini