“Jangan Munafik”: Renungan, Jumat 4 Maret 2022

0
1891

Hari Jumat sesudah Rabu Abu (U)

Yes. 58:1-9a; Mzm. 51:3-4,5-6a,18-19; Mat. 9:14-15.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan. Dalam Injil hari ini dilukiskan bahwa para murid Yohanes Pembaptis nampak marah dan jengkel kepada para murid Yesus karena mereka dan orang Farisi berpuasa dan bermatiraga memenuhi aturan agama mereka sedangkan para murid Yesus bebas untuk makan dan minum. Dan jawaban Yesus kepada mereka yakni, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?”

Mempelai yang dimaksud Yesus adalah diri-Nya sendiri. Bagaimana mungkin para murid berdukacita (puasa dan bermatiraga) bila Kristus masih bersama-sama dengan mereka. Jawaban Yesus ini sebenarnya mau menyinggung praktik keagamaan yang dilakukan oleh para murid Yohanes dan orang-orang Farisi. Mereka hanya melakukan kewajiban agama sebagai formalitas semata, sehingga kehilangan makna dasarnya yakni kedekatan diri pada Tuhan.

Nabi Yesaya juga dalam bacaan pertama mengingakatkan kepada umat Israel untuk kembali kepada Tuhan, sebab mereka mengalami kemerosotan moral dan terjebak pada penghayatan keagamaan yang mengutamakan formalitas, tapi hati mereka jauh dari Tuhan. Mereka hanya menjalankan ritual keagamaan seperti berdoa, berpuasa, merayakan hari sabat, begitu saja. Mereka mengabaikan prinsip dasarnya sehingga kehilangan makna yang sesungguhnya. Yesaya menegaskan bahwa puasa yang tidak didasari oleh spiritualitas yang benar hanya akan sia-sia belaka.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan. Terkadang tanpa disadari, kita sering bersikap seperti para murid Yohanes dan orang Farisi danyang menjalankan praktik keagamaan hanya sebagai bentuk formalitas saja. Bahkan karena kemajuan teknologi informasi kita mudah jatuh dalam penghayatan keagamaan yang dangkal. Misalnya ketika kita merayakan Ekaristi atau berpuasa sering kali kita memamerkan aktivitas tersebut di media meskipun kita tak sungguh-sungguh menghayatinya. Kegiatan-kegiatan keagamaan dilakukan tak lebih hanya sebagai bahan untuk diviralkan melalui media sosial dan bukan sebagai sarana untuk kita semakin dekat dan mengalami kehadiran Tuhan di dalam hati kita.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan. Sabda Yesus hari ini mengingatkan kita semua untuk tidak bersikap munafik dan tidak terbuai dengan praktik keagamaan sebagai rutinitas belaka. Yang Yesus harapkan dari kita yakni kerendahan hati serta keterbukaan hati untuk menjalankan praktik keagamaan agar kehadiran Tuhan dapat kita rasakan sepenuhnya. Untuk itu marilah kita semua dalam masa prapaskah ini membaharui motivasi kita dalam berpuasa dan berpantang. Kita berpuasa bukan hanya karena hal itu merupakan perintah agama kita, tetapi karena kita sungguh sadar bahwa alasan kita berpuasa adalah karena kita mau mengasihi Allah.

(Gilberth Arnol Karapa)

“Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa” (Mat. 6:16).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, buatlah aku semakin rendah hati agar aku dapat mengalami kehadiran-Mu dalam setiap perjalanan hidup ini. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini