“Merasakan Belas Kasih Allah” : Renungan, Rabu 2 Maret 2022

0
2335

HARI RABU ABU (U)

Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 2Kor. 5:20 – 6:2; Mat. 6:1-6,16-18.

Saudara-saudari yang terkasih, hari ini kita mengawali masa tobat persiapan paskah dengan perayaan hari Rabu Abu. Kita menerima tanda salib di dahi sebagai tanda kita ingin lebih dekat dengan Tuhan. Kita tempelkan di dahi kita tanda kemenangan Kristus yang telah wafat di kayu salib untuk menyelamatkan kita, sehingga kita merasa bahwa kita sudah ditandai oleh kehadiran Tuhan yang menyelamatkan kita. Ajakan kepada pertobatan, bukanlah ajakan untuk bersedih, muka muram, berpuasa dan matiraga, yang seolah semuanya harus dirasakan sebagai beban yang memberatkan. Sebaliknya, ajakan untuk berpuasa dan bertobat adalah undangan untuk lebih dekat dengan Tuhan. Dan pengalaman dekat dengan Tuhan, bukanlah pengalaman yang menyedihkan, melainkan pengalaman yang menggembirakan.

Kitab Yoel menyerukan pertobatan dengan undangan melakukan kegiatan bersama secara massal. Ia berseru, “Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya, kumpulkanlah bangsa ini: orang tua, anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu.” Semua diundang untuk kembali kepada Tuhan, berbalik dari dosa-dosa dan memberikan diri untuk diperdamaikan dengan Allah.

Rasul Paulus juga menyerukan ajakan yang sama. Ia berkata, “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Bukan main cinta Allah kepada kita ini. Ia yang kudus dan datang dari Allah, dan tidak mengenal dosa, telah dibuat oleh Dia menjadi dosa demi kita. Allah rela menjadi sama dengan kita, juga sampai ke dalam kedosaan kita dan mengalami maut, sebagai akibat dosa manusia.

Allah berkenan dan rela menjadi sama dengan kita, karena kita sendiri tidak mungkin bisa menjadi sama dengan Allah. Namun karena Allah telah mengambil kemanusiaan kita di dalam Yesus Kristus, maka kita bisa menjadi seperti Allah, dan kita dinamakan anak-anak Allah. Bertobat berarti merasakan kembali martabat sebagai anak-anak Allah dan menjadi dekat dengan Allah. Caranya ialah dengan mengakui dosa-dosa kita, mendapat sakramen pengampunan melalui imam dan berusaha untuk hidup suci. “Berbahagialah orang yang suci hatinya, sebab ia akan melihat Allah” (Mat. 5:8).

Dalam Injil, Tuhan Yesus mengajak kita untuk menghayati iman dan kedekatan kita dengan Allah Bapa secara pribadi dan dengan penuh sukacita. “Kalau kamu berpuasa, minyakilah kepalamu, dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat orang bahwa kamu berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Perhatikanlah semangat yang ada di balik kata-kata Tuhan Yesus itu. Kita diminta untuk menghayati hubungan kita dengan Bapa di surga secara pribadi, secara personal, secara tersembunyi, secara rahasia. Karena seperti itu juga penghayatan Tuhan Yesus dalam relasi-Nya dengan Bapa-Nya di surga. Ia sering berdoa sendirian dan semalam-malaman. Yesus tidak pernah memamerkan hidup keagamaan-Nya seperti para ahli taurat dan orang farisi. Yesus bersukacita dalam Roh Kudus dan memuji Allah karena rahasia keselamatan disembunyikan terhadap kaum cerdik pandai dan dinyatakan kepada kaum sederhana.

Marilah kita memasuki masa prapaskah, masa pantang dan puasa, masa matiraga dan pertobatan, dengan semangat kegembiraan karena kita diperdamaikan dengan Allah. Marilah kita menghayati hidup iman kita secara pribadi dalam relasi yang intim dengan Allah Bapa, melalui Sang Putra, di dalam Roh Kudus.

(RP. Albertus Sujoko, MSC)

“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Kor. 5:21).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, sertailah kami dalam masa prapaskah ini sehingga kami boleh merasakan belas kasih-Mu yang tak terhingga. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini