“Kualitas Hati”: Renungan, Minggu 27 Februari 2022

0
2520

Hari Minggu Biasa VIII (H)

Sir. 27:4-7; Mm. 92:2-3.13-14.15-16; 1Kor. 15:54-58; Luk. 6:39-45.

“Saya adalah pensil kecil di tangan Allah yang sedang menulis, yang mengirim surat cinta kepada dunia.” Demikianlah ungkapan Mother Theresa yang mau menggambarkan bagaimana kita menjadi kecil tetapi membawa arti bagi kehidupan orang lain.

Sebagaimana fungsi pensil untuk menulis, menulis segala kebaikan yang ada, sehingga menjadi cerita yang baik untuk dikenang; goresannya bisa dihapus, menghapus segala kesalahan yang sempat menggores hati kita; runcing dan bisa patah, artinya menjadi sosok yang tangguh walau terkadang bisa jatuh tetapi itulah proses pembentukannya; dan akhirnya memendek sampai habis tetapi sudah memberikan sejumlah arti dalam pelbagai aspek hidup kita.

Demikianlah yang tercermin dalam bacaan-bacaan hari ini, yang mau mengajak bagaimana kita menjadi dan membawa arti dalam kehidupan bersama. Injil menegaskan sebagai seorang murid Kristus, kita harus mengutamakan kualitas hati dalam pelbagai aspek kehidupan. Hati mendorong dan menggerakkan kita untuk melihat dan bertindak dari kacamata positif.

Karena terkadang kita dibutakan dengan formalisme dan kemunafikan, yang membuat kita terjebak dalam situasi menyalahkan dan mengadili orang lain. Lebih suka menilai orang lain tetapi lupa menilai diri kita sendiri. Di posisi seperti ini, kita melupakan peranan hati. Melalui bacaan hari ini, kita diajak untuk inwardness, bagaimana kita mampu melihat ke dalam diri kita, dalam tiga hal:

Pertama, tidak saling melihat kekurangan orang lain melainkan saling melengkapi dengan berjalan bersama seperti nasihat Rasul Paulus, “berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan.” Sebab bersama Tuhan kita akan mendapatkan kepenuhan yang sempurna, hidup yang sangat berarti.

Kedua, introspeksi diri sendiri sebelum melihat orang lain. Artinya, kita patut berkaca pada diri kita sendiri sebelum menilai orang lain. Injil menegaskan, “Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?”

Ketiga, ketika kita memerintahkan segala sesuatu, kita pun harus terlibat bukan sekedar menyuarakan. Kita ikut bertindak sehingga ada kesesuaian antara kata dan tindakan.

Akhirnya, kasih yang sejati, kasih yang berasal dari hati, itulah kasih yang diungkapkan dalam tindakan nyata. Sebagaimana Allah adalah kasih, yang dengan hati-Nya mencintai dan memberikan hidup untuk kita.

 (Fr. Itho Silap)

“Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik” (Luk. 6:45).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah kami alat cinta-Mu yang senantiasa bertindak berlandaskan hati. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini