“Iman: Jalan Kehidupan”: Renungan, Jumat 18 Februari 2022

0
1578

Hari Biasa (H)

Yak. 2:14-24,26; Mzm. 112:1-2,3-4,5-6; Mrk. 8:34-9:1.

Setiap orang tentu memiliki idolanya masing-masing. Mungkin bagi pencinta film super hero sosok Super-Man, Bat-Man atau Wonder-Woman adalah idola mereka. Ada juga yang mengidolakan sosok tentara atau juga polisi tertentu yang dikenalnya. Hal demikian dapat terjadi karena seorang yang diidolakan tersebut memiliki karakter atau kemampuan khusus yang membuat kita mengidolakannya. Maka pribadi kita pun kadang mempraktekkan gaya hidup dari dia yang kita idolakan tersebut. Hal itu tanpa kita sadari telah menggambarkan kepercayaan kita terhadap idola kita itu.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mau menceritakan tentang iman dan relevansinya dalam hidup kita yakni dalam perbuatan. Surat Yakobus menceritakan tentang iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Hal ini mau menegaskan bahwa sejatinya iman memiliki relevansinya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Injil sangat jelas bahwa Yesus telah memberikan gambaran tentang menjadi murid-Nya. Dalam hal ini, orang yang mau mengikuti-Nya harus siap menyangkal diri dan memikul salib.

Menyangkal diri dan memikul salib berarti jika kita mau mengikuti-Nya, kita harus lepas dari keinginan-keinginan duniawi dan berani untuk berkorban demi kebahagiaan banyak orang. Bagi kita umat beriman, mengimani Yesus bukan sekedar mengidolakan pribadi yang memiliki karakter atau kemampuan khusus dan mempraktekkan gaya hidupnya, melainkan dengan mengikuti Yesus kita dapat membuka jalan kebahagiaan bagi banyak orang lewat perilaku baik kita.

Yesus hendak meminta kita supaya jangan terpengaruh dengan kenikmatan dunia yang dapat menyesatkan kita.  Sebagian orang mungkin akan berpikir, apa untungnya meninggalkan segala sesuatu yang sudah saya miliki dengan jerih payah hanya untuk mengikut Yesus? Ya, manusia tidak luput dari apa yang disebut dengan kerakusan atau hanya memikirkan sesuatu yang menyenangkan dirinya meskipun kesenangan itu hanya sesaat.

Yesus meminta kita meninggalkan semua milik kita dan mengikut Dia bukan berarti Ia akan membiarkan kita hidup dalam ketiadaan. Ia sendiri akan memenuhi segala kebutuhan kita, dan Ia pun menjanjikan bagi kita hidup kekal dengan-Nya di Kerajaan Allah. Untuk itu, marilah kita semua belajar untuk mengikut Yesus. Kita dapat mulai dengan hal-hal yang paling sederhana seperti mulai membangun kasih di dalam keluarga, lingkungan, maupun dimana saja kita berada dan jangan takut kehilangan sesuatu yang menurut kita berharga karena Yesus akan menggantinya dengan yang lebih baik.

(Fr. Glandy Yohanes Tambingon)

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mrk. 8:34).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, teguhkanlah iman kami kepada-Mu, dan tuntunlah kami menjadi pewarta Injil-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini