“Yang Masuk dan Yang Keluar”: Renungan, Rabu 9 Februari 2022

0
1494

Hari Biasa (H).

1Raj. 10:1-10; Mzm. 37:5-6,30-31,39-40; Mrk. 7:14-23.

Dalam perkembangan dunia saat ini tidak jarang terdengar orang-orang menggolongkan suatu makanan ke dalam golongan tertentu, seperti golongan makanan yang haram dan tidak haram. Makanan yang dikatakan sebagai makanan haram sangat dilarang untuk dikonsumsi dan itu akan disebut melanggar aturan jika ada yang memakannya. Namun tidak jarang juga ada orang tetap memakannya walaupun haram, sehingga menimbulkan perdebatan yang berkelanjutan.

Bacaan pertama hari ini menjelaskan bagaimana ratu negeri Syeba takjub akan hikmat Salomo. Hikmat yang Salomo dapatkan tidak terlepas dari peranan Tuhan. Sebab, Salomo selalu menuruti dan menaati perintah Tuhan, sehingga ia dilimpahi berkat. Apa yang keluar dari mulut Salomo itu adalah Firman Tuhan, sehingga itu menjadi berkat bagi banyak orang. Salomo tidak menajiskan apa yang keluar dari mulutnya sebab dari mulutnya keluar firman Tuhan.

Yesus dalam bacaan Injil hari ini menegaskan bahwa “apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya”. Artinya, Yesus tidak mempermasalahkan kita mengonsumsi apa saja, karena segala sesuatu dari luar termasuk makanan tidak dapat menajiskan. Sebab, bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perut lalu dibuang di jamban. Justru yang keluar dari dalam itulah yang menajiskan, karena dari dalam hati timbullah kebencian, permusuhan, pembunuhan, kejahatan. Semua kejahatan ini timbul dari dalam dan menajiskan orang. Dari sini kita dapat memahami bahwa yang masuk ke dalam merupakan sesuatu yang bersih karena tidak mengandung kebencian.

Untuk itu marilah kita semua tidak terlalu memikirkan apa yang masuk ke dalam tubuh kita, tentang yang haram dan tidak haram, karena apa yang masuk tidak mengandung kebencian dan tidak dari hati, melainkan kita lebih mengutamakan apa yang keluar dari dalam. Apa yang dari dalam keluar melalui hati manusia, sehingga ketika ia membenci maka apa yang keluar itu najis, namun jika ia penuh kasih sayang apa yang keluar dari mulutnya itu adalah berkat bagi banyak orang. Maka, biarlah yang berasal dari dalam itu mengandung kasih sebab yang menerimanya pun akan diberkati.

(Fr. Wensislaus Nowinrian)

“Apapun dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, tetapi yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskannya” (Mrk. 7:18-20).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, berkatilah mulut dan hati kami agar dapat mewartakan kabar sukacita bagi banyak orang. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini