“Lentera Jiwa”: Renungan, Kamis 27 Januari 2022

0
2266

Hari Biasa (H).

2Sam. 7:18-19,24-29; Mzm. 132:1-2,3-5,11,12,13-14; Mrk. 4:21-25.

Dalam keadaan tertentu di setiap daerah, entah di kota atau pun daerah pedesaan sesekali terjadi pemadaman listrik yang membuat seluruh daerah menjadi gelap. Dalam kegelapan itu, orang biasanya mencari pelita, lentera dan berbagai jenis penerang lainnya, lalu meletakkannya di tempat yang dapat menerangi seluruh sudut ruangan. Akhirnya kegelapan itu, berubah menjadi terang.

Sabda Yesus melalui perumpamaan mengenai pelita menyatakan bahwa “Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan ditaruh di atas kaki dian …” (Mrk. 4: 21a). Apa sebenarnya maksud dari Yesus melalui perumpamaan itu? Perumpamaan ini menekankan beberapa hal yakni pertama, pelita merupakan gambaran dari kepunyaan dan kelebihan yang dimiliki oleh setiap orang. Kepunyaan yang digambarkan melalui pelita ini diharapkan menjadi hal yang berguna bagi orang lain. Kedua, terang dari pelita itu adalah tanda di mana kelebihan itu dibagikan kepada orang lain. Ketiga, di bawah gantang atau tempat tidur dan kaki dian adalah pilihan untuk membagikan kelebihan itu atau tidak membagikannya.

Sang Terang sejati yakni Yesus Kristus telah memberi teladan kepada setiap umat beriman untuk menjadi terang bagi sesamanya. Karena sejak semula Allah telah menyatakan terang-Nya melalui janji-Nya seperti dalam warta nabi Natan: “Sebab, ya Tuhan Allah, karena berkat-Mu keluarga hamba-Mu ini diberkati untuk selama-lamanya” (bdk. 2 Sam 19: 29). Berkat-Nya itu nyata dalam diri Yesus Kristus yang adalah Terang itu.

Kiranya setiap orang menjadi pelita maupun lentera yang menerangi setiap sudut hati dan jiwa yang berada dalam kegelapan karena dosa. Dengan demikian apa yang dilakukan itu, menimbah suatu berkat seperti disabdakan Yesus: “Yang mempunyai, kepadanya akan diberi” (bdk. Mrk. 4:25). Orang yang membagikan kepunyaannya kepada orang lain kelak apa yang ada padanya itu ditambahkan oleh Tuhan.

Kiranya pelita yang ada pada setiap orang dibawa kepada Yesus untuk memperoleh terang dan menimba kepenuhan dalam Tuhan. Namun, apabila memilih untuk tidak membagikannya, konsekuensinya ialah “apa yang ada padanya akan diambil dari padanya” dan menghantar pada kegelapan yang menyesatkan. Maka, marilah menjadi pelita maupun lentera yang bernyala bagi jiwa yang masih terkurung dalam kegelapan, agar dengan terang dari lentera maupun pelita itu semua orang mengalami terang sejati dalam Tuhan, Sang Terang abadi.

(Fr. Feighty Sandehang)

“Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan ditaruh di atas kaki dian” (Mrk. 4: 21a).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah kami pelita bagi sesama. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini