Hari Biasa (H)
Ams. 9:11-15; Mzm. 85:9,11-12,13-14; Mat. 9:14-17
Puasa dalam pemahaman orang Kristiani selalu menunjuk pada penyangkalan diri, tanda pertobatan. Puasa merupakan cara bagaimana kita mempersembahkan hidup kita, mempersatukan diri kita dengan Kristus. Kristus yang mengorbankan diri di kayu salib sebagai silih atas dosa kita dan untuk keselamatan kita.
Puasa dan pantang dalam kacamata umat Kristiani juga tidak terlepas dari doa. Sebab puasa dan pantang dilihat sebagai suatu jalan bagi umat Kristiani untuk semakin dekat, semakin mengenal dan semakin mengimani Allah.
Dengan demikian kita akan berjalan dalam terang-Nya. Melalui puasa dan pantang pula kita diajak untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatanNya.
Bacaan-bacaan pada hari ini khususnya bacaan Injil mengajak kita untuk bermenung tentang puasa. Bacaan pertama menampilkan undangan hikmat dan undangan kebodohan. Dalam Kitab Amsal dikatakan, “Segala perbuatan yang baik maupun yang tidak baik akan ditanggungkan bagi kita sendiri”.
Untuk itu puasa mengajak kita untuk senantisa berpasrah dan mendekatkan diri dengan Tuhan. Juga menyadari segala berkat dari Allah dan apa yang dikehendaki Allah dalam perbuatan-perbuatan kita.
Bacaan Injil menampilkan Yesus yang mengajar para murid-Nya tentang hal berpuasa. Lewat perumpamaan Yesus mengajak kita untuk berpuasa dengan tekun dan sabar. Puasa yang sesungguhnya bukan tentang penampilan luar melainkan pertobatan batin. Artinya bukan seberapa lama kita tahan lapar, melainkan mutunya, kualitasnya.
Yesus mengajak kita berpuasa bukan sekedar ikut ramai, ‘karena dia berpuasa maka saya berpuasa’. Kita diajak bahwa sebagai umat beriman tidak hanya melihat puasa dan pantang sebagai suatu rutinitas setiap kali kita memasuki masa prapaskah. Tetapi kita melihat puasa itu sebagai suatu kebutuhan dalam hidup beriman.
Ibarat sebuah pohon anggur yang tumbuh subur dan menghasilkan buah manis. Ataukah kain putih bersih dan indah yang tidak ternoda.
Demikian pula puasa hendaknya menghasilkan buah yang manis, menghasilkan berkat yaitu pembaharuan dalam diri melalui pertobatan, hidup doa dan berbagi dengan sesama. Itulah yang akan mendatangkan sukacita dalam hidup.
Berkat Tuhan selalu ada dalam hidup beriman kita. Tergantung bagaimana cara kita menggapai berkat Tuhan itu. Ketika kita tidak mampu mengolah berkat itu, kita ibarat anggur yang masak namun tidak pernah dipetik orang.
Anggur itu kemudian jatuh dan membusuk di tanah. Atau seperti kain bersih yang tidak pernah digunakan orang, lambat laun mulai kusam. Jika kita dengan bijak menanggapi dengan benar berkat Tuhan itu maka, ”Tuhan akan memberikan kebaikan dan negeri kita akan memberi hasilnya”.
(Fr. Ongen Heatubun)
“Waktunya akan datang …” (Mat. 9:15b)
Tuhan, jadikanlah puasa itu bagian dalam diri kami yang mendatangkan berkat. Amin.











