Hari Biasa (H)
1 Sam. 17:32-33,37,40-51; Mzm. 144:1,2,9-10; Mrk. 3:1-6.
Saudara-saudara yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Dalam Injil hari ini, kita mendengarkan bagaimana Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat. Kehadiran Yesus di dalam rumah ibadat memberikan sukacita, pencerahan, yang menciptakan kehidupan baru. Kisah Yesus ini menunjukkan kuasa Yesus yang mampu menahirkan orang yang mati sebelah tangannya. Selain menyembuhkan orang, Yesus juga menunjukkan kepada orang-orang yang ada pada waktu itu agar memahami aturan Sabat. Aturan Sabat tidak membebani, mengungkung, memenjarakan manusia, tetapi membebaskan, mensejahterakan, dan menyelamatkan manusia.
Orang-orang yang melihat dan menyaksikan secara langsung dan mengalami mukjizat Yesus di rumah ibadat itu merasakan kuasa dan wibawa Yesus ini, dan mereka juga menyadari bahwa rumah ibadat menjadi tempat dimana orang bertemu atau berjumpa dengan Allah yang menyelamatkan, tempat di mana orang diterima dengan penuh kasih dan cinta, mengalami penyembuhan dan pembebasan.
Anehnya, kehadiran Yesus di rumah ibadat itu bagi orang-orang Farisi sangat berbahaya dan mengancam popularitas mereka sehingga membangkitkan emosi bagi orang-orang Farisi. Meski melihat karya agung Yesus tetapi hati mereka tidak tergerak untuk berterima kasih dan bersyukur, sebaliknya mereka mempersalahkan Yesus, bahkan mereka mencari sekutu untuk membunuh Yesus. Karya Yesus pada hari Sabat ini menjadi pertentangan bagi orang-orang Farisi sebab mereka merasa paling mengerti dan memahami aturan hari Sabat. Mereka tidak mampu melihat bahwa karya agung Yesus yakni menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya ini, bukan berarti melanggar aturan sabat, tetapi justru menjunjung tinggi maksud inti, jiwa, semangat dasar aturan sabat, yakni membebaskan orang dan menyelamatkan orang serta mengantar orang pada Allah.
Saudara-saudara yang terkasih, jangan karena aturan sehingga kita jauh dari orang lain dan tidak dapat melakukan yang baik kepada yang membutuhkan pertolongan, tetapi sebaliknya seperti apa yang diperintahkan Tuhan kepada kita, yaitu cinta kasihlah yang mendasari aturan yang ada. Karena itu berbuat kasihlah terhadap sesama dengan ini kamu akan melaksanakan aturan yang ada. Seperti menolong orang, berani berkorban bagi sesama kita, dan mampu berbagi dengan sesama kita, menghargai orang lain, melaksanakan kewajiban kita dan masih banyak lagi bentuk perbuatan kasih kita yang dapat dilakukan.
(Fr Steven Baradi)
“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” (Mrk. 3:4).
Marilah berdoa :
Tuhan, jadikan aku alat-Mu untuk menyalurkan rahmat cinta kasih-Mu kepada sesamaku yang membutuhkan pertolongan. Amin











