“Iman Yang Menyelamatkan”: Renungan, Jumat 7 Januari 2022

0
2710

Hari Biasa ses PenampTuh (P)

1Yoh. 5:5-13; Mzm. 147:12-13.14-15.19-20; Luk. 5:12-16

Dalam kalangan masyarakat Yahudi kusta dianggap sebagai sesuatu yang menajiskan. Kusta adalah suatu aib bagi mereka. Karena itu orang yang mendapat kusta harus diasingkan dari masyarakat. Kita dapat membayangkan betapa menderitanya orang yang mendapat kusta pada waktu itu. Mereka tak hanya sakit secara fisik tetapi juga “sakit” secara psikis. Mereka mengalami penderitaan yang luar biasa besarnya. Ruang gerak mereka dibatasi oleh karena penyakit yang diderita. Hinaan dan cemoohan seringkali mereka dapatkan dari masyarakat. Mereka dianggap sebagai aib bagi masyarakat. Itulah mengapa mereka menanggung beban yang luar biasa besarnya karena setiap harinya mereka pasti mendapat hinaan yang begitu berat rasanya.

Bacaan hari ini mengisahkan tentang Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta. Yesus memiliki belas kasih yang sangat besar terhadap manusia. Yesus mencintai umat-Nya dan tak ingin umat-Nya menderita. Penderitaan yang dialami seorang kusta pun diakhiri-Nya dengan mukjizat pentahiran. Kini orang kusta itu bisa menjalani hidup dengan normal tanpa cemoohan atau pun pengasingan dari masyarakat. Beban yang dipikulnya akhirnya diringankan oleh Yesus karena cinta yang tidak pernah padam kepada umat manusia. Cinta Yesus begitu nyata kepada penderita kusta ini.

Dalam hidup sehari-hari kita seringkali dihadapkan dengan banyak cobaan, tantangan, maupun rintangan yang membuat kita merasa tak berdaya. Yesus selalu hadir untuk kita. Ia tak pernah meninggalkan kita sendirian. Namun yang Ia butuhkan ialah iman dan kerendahan hati kita untuk berdoa dan memohon pertolongan dari-Nya. Kita adalah manusia yang fanah dan tak berarti apa-apa tanpa diri-Nya.

Bacaan Injil mengisahkan bagaimana orang kusta itu datang, bahkan tersungkur di hadapan Yesus untuk memohon penyembuhan dari-Nya. Iman dan kerendahan hati orang kusta itu dapat kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Seberat apa pun penderitaan yang dialami kita mesti sadar bahwa Tuhan selalu ada untuk kita. Ia selalu bersedia untuk membantu kita dalam segala kesusahan. Namun pertanyaannya “apakah kita selalu datang dan memohon pertolongan dari-Nya?”

(Fr. Angky Savsavubun)

“Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku”  (Luk. 5:12).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, berkatilah kami untuk selalu memiliki iman yang teguh dan tetap kepada-Mu. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini