Hari biasa ses PenampTuh (P).
1 Yoh. 3:22-4:6; Mzm. 2:7-8, 10-11; Mat. 4: 12-17, 23-25
Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang awal mula karya Yesus dalam memberitakan Injil. Yesus meninggalkan Nazaret dan pergi ke Galilea dan berdiam di Kapernaum, tepatnya di daerah Zebulon dan Naftali. Dalam pewartaannya, Yesus memberitakan agar semua orang bertobat: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!”. Selain itu, Yesus juga melakukan penyembuhan bagi orang yang sakit, sehingga banyak orang berbondong-bondong datang kepada Yesus untuk memperoleh kesembuhan.
Yesus hadir untuk menunjukan kebaikan dan cinta Allah. Yesus menunjukkan bagaimana menjadi manusia yang baik dan benar di hadapan Allah. Kebaikan hati Allah tampak dalam tindakan Yesus untuk menyembuhkan orang yang sakit. Banyak orang yang datang kepada Yesus menandakan bahwa orang-orang demikian mau bertobat dan percaya kepada Yesus. Kehadiran Yesus di Galilea bagaikan terang yang menyinari tempat yang dikuasai oleh kegelapan. Terang sangat diperlukan oleh mereka yang berdiam dalam kegelapan supaya mengalami terang yang menyelamatkan.
Untuk memperoleh terang, terlebih dahulu harus bertobat. Bertobat berarti merubah fokus hidup dari yang gelap kepada terang yang sejati. Terang itu membantu setiap orang untuk menemukan jalan. Terang membantu orang untuk mengarahkan langkahnya pada yang benar. Bacaan pertama mengingatkan akan hal yang perlu kita lakukan untuk memperoleh keselamatan, yaitu dengan menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya, serta percaya kepada-Nya. Dengan demikian segala yang kita minta dari pada-Nya akan kita peroleh dalam kehidupan kita, “Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah diam di dalam dia.”
Pertobatan mendatangkan keselamatan. Keselamatan yang kita peroleh hanya melalui Yesus Kristus. Bertobat dan berserah diri kepada Allah adalah satu-satunya jalan agar kita memperoleh keselamatan. Terang membantu serta menerangi kita untuk terus melangkah. Apakah terang Sabda Tuhan sudah menguasai dan mengendalikan hidup kita? Ataukah justru kita sering berusaha untuk memadamkannya karena hal-hal lain yang begitu mendesak? Marilah kita membiarkan Terang itu tetap menyala dan menerangi kehidupan kita.
(Fr. Rendy Rahangiar)
“Bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit terang” (Mat. 4:16).
Marilah berdoa:
Ya Allah Bapa yang Mahabaik, kiranya Engkau selalu menjadi terang yang selalu menjaga dan menerangi langkah hidupku ini. Amin.











