“Keluarga Harmonis”: Renungan, Minggu 26 Desember 2021

0
1533

Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, Yusuf(P). Hari Kedua dalam Oktaf Natal. 

1Sam. 1:20-22,24-28; Mzm. 84:2-3,5-6,9-10; 1Yoh. 3:1-2,21-24; Luk. 2:41-52.

Ada syair lagu yang cukup terkenal, ‘Harta yang paling berharga adalah keluarga, istana yang paling indah adalah keluarga, puisi yang paling bermakna adalah keluarga, mutiara tiada tara adalah keluarga, …’. Lagu ini cukup terkenal pada masanya. Tentu saja masih sangat relevan untuk didengarkan sekarang ini. Dalam lagu tersebut dikatakan bahwa keluarga adalah harta yang sangat luar biasa yang dimiliki. Itu adalah anugerah Tuhan.

Setiap tahun Gereja merayakan Pesta Keluarga Kudus. Pesta ini membuat setiap orang mengenal keluarga kudus yang anggotanya ialah Yesus, Maria dan Yusuf. Penginjil Lukas menghadirkan figur Bunda Maria dan Bapa Yusuf sebagai pribadi-pribadi yang sangat taat pada Allah karena memiliki iman yang sangat besar. Secara manusiawi pasti mereka merasa terpukul ketika mereka yang telah mencari dan menemukan Yesus di Bait Allah tapi mendapat pertanyaan yang membingungkan; “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Mungkin jika hal tersebut terjadi pada diri orang pada umumnya reaksi yang muncul pasti kecewa bahkan marah. Namun tidaklah demikian pada Maria dan Yusuf. Mereka tetap dengan penuh kelembutan mengajak Yesus pulang. Dari situ dapat dilihat dalam lanjutan kisahnya setelah diketemukan; “Lalu Ia pulang bersama-sama dengan mereka ke Nazaret; dan Ia hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.” Sebagai murid Kristus umat beriman hendaklah menghargai dan menjaga semua berkat yang telah Tuhan berikan terlebih selalu menjaga keharmonisan dalam rumah tangga dan keluarga, sebagaimana yang diteladankan Keluarga Kudus Nazaret.

Dalam bacaan pertama kita mendengar bagaimana Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada Hana sehingga ia boleh mengandung dan melahirkan Samuel, sedangkan dalam bacaan kedua Yohanes menjelaskan bagaimana bersikap sebagai anak-anak Allah; menyadari besarnya kasih Allah kepada kita, sehingga kita pun disebut sebagai anak-anak-Nya. Inilah gambaran nyata bahwa kehidupan anak-anak Allah ada dalam naungan-Nya, karena Ia adalah Bapa kita. Tanpa adanya kesadaran yang sedemikian ini, tentu saja akan mengakibatkan banyak penyimpangan sebagai anak Allah, seperti kekerasan dalam rumah tangga. Hal tersebut terjadi karena tidak adanya kasih dan kesadaran dalam diri sebagai anak-anak Allah. Semoga perayaan hari ini mendorong setiap orang untuk sadar akan panggilan dalam menjaga keharmonisan dalam keluarga dan sesama.

(Fr. Ivandi Panda Raja)

« Lalu Ia pulang bersama-sama merekake Nazaret ; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka » (Luk. 2 :51).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, berikanlah aku kekuatan agar aku selalu taat pada-Mu dan mampu menjaga keluargaku. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini