“Tiada tempat bagi Allah Yang tidak dikenal”: Renungan, Sabtu 25 Desember 2021

0
1644

Hari Raya Natal (P).

Yes62: 1-5; Mzm. 97:1,6,11-12; Tit. 3:4-7; Luk. 2: 15-20. 

Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) menjadi jalan keselamatan yang sangat populer. Membudayanya jurus ini menjadi batu sandungan dan ancaman rutin bagi hidup bersama yang solider, adil dan benar. Masyarakat yang dirasuki  KKN tidak bersedia memberi tempat bagi mereka yang tidak dikenal. Mereka yang tidak punya kenalan orang dalam dan tidak punya uang sulit mendapatkan tempat tinggal, tempat kerja dan tempat mencari keadilan.

Dalam suasana demikian perayaan Natal menjadi oase yang sedikit menyejukkan mereka yang haus dan lapar akan kebenaran dan keadilan serta solidaritas. Suasana sukacita dan kegembiraan serta lagu-lagu natal yang menggemakan pujian para malaikat, “Gloria in excelsis Deo et in terra pax hominibus,” sejenak membuat orang melupakan nasib sial dalam hidup harian di dunia nyata. Orang dibuat mengalami bahwa  ternyata masih ada Allah yang mengasihi kita. Ia tidak meninggalkan umat-Nya.

Namun Gita surga yang dikumandangkan para malaikat sebagai kabar kesukaan besar, Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat di kota Daud, gemanya tidak bertahan lama.  Juruselamat yang tampil dalam rupa bayi yang terbaring di palungan berselimutkan kesederhanaan dan kemiskinan kaum pinggiran, hanya memberi keharuan sesaat dan menjadi obyek foto kenangan. Allah dalam rupa bayi yang lemah merupakan Allah yang tidak dikenal dan tidak disukai. Ia datang ke dunia kepada orang-orang kepunyaan-Nya tetapi dunia tidak mengenal-Nya, mereka tidak menerima-Nya. Manusia tak sudi menerima apalagi mengikuti-Nya.

Manusia lebih menyukai Allah Yang mahatinggi, dahsyat dan penuh kuasa, pembuat mujizat kesembuhan, pelepas resesi ekonomi dan pembawa kemakmuran serta pembasmi para penjahat. Manusia lebih menginginkan Juruselamat sesuai kehendak dan keinginan hati mereka. Allah harus memenuhi keinginan manusia. Ia harus memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar keselamatan, agar relevan bagi manusia.

Namun, Allah menjadi manusia bukan untuk takluk kepada keinginan manusia, si daging, laki-laki maupun perempuan. Natal adalah khairos, saat Allah menyatakan keselamatan yang dari pada-Nya. Kalau manusia ingin mengenal keselamatan yang dari Allah maka mereka harus ke kandang, memandang kepada-Nya, apa ada-Nya. Sebab ketika mengutus Putera-Nya ke dunia Allah berkata: “Semua Malaikat Allah harus menyembah Dia.”

Kelahiran Yesus di palungan mengenalkan hakikat kemuliaan dan keselamatan serta damai sejahtera sejati, rancangan Allah dan dambaan manusia. Sehingga, Kerajaan Allah bukan soal makanan dan minuman, tetapi kebenaran, keadilan dan damai sejahtera. Yesus bukanlah bayi yang cengeng yang memeluk empat balon erat-erat agar tidak terlepas. Ia tidak menganggap kemuliaan dan kekayaan-Nya yang setara Allah, sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi dibagikan, dishare dengan manusia.

Apakah rancangan Allah yang sedemikian mendapat tempat dalam hidup kita? Apakah kita berlaku benar dan adil terhadap para pekerja di lingkungan usaha kita? Atau kita memeluk erat-erat keuntungan untuk diri kita sendiri? Belajar dari bayi di palungan, biarkanlah Natal kali ini membawa selamat bagi dunia dan manusia.

(RD. Julius Salettia)

“Supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup kekal, sesuai dengan pengharapan kita” (Tit. 3:7).

Marilah berdoa:

Semoga segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita. Amin!

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini