“Perjumpaan yang Membawa Sukacita”: Renungan, Selasa 21 Desember 2021

0
1592

Hari Biasa Khusus Adven (U).

Kid. 2:8-14 atau Zef. 3:14-18a; Mzm. 33:2-3,11-12,20-21: Luk. 1:39-45.

Injil hari ini menampilkan dengan jelas sebuah kisah mengenai kunjungan Maria ke Elisabet saudarinya. Di mana, bagi manusia pun kunjungan memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan. Sebab, manusia terkadang saling mengunjungi satu dengan yang lain entah itu keluarga, sahabat atau siapa saja. Begitu juga dengan Maria yang mengunjungi Elisabet saudarinya. Bahkan, kendati perjalanannya jauh, namun kedatangan Maria mampu membuat Elisabet memperoleh sukacita yang besar.

Hal yang lebih jauh dari perjumpaan Maria dan Elisabet ialah sukacita yang dihasilkan melalui karya Allah, yang secara tidak langsung turut meneguhkan persaudaraan meraka. Selain itu, pertemuan antara Maria dan Elisabet membawa sebuah perubahan yang besar dalam hidup setiap manusia. Mengapa demikian? Karena, kedua perempuan ini mengandung anak secara “aneh”. Elisabet yang kendati sudah tua, masih dapat mengandung karena belas kasih Allah, sedangkan Maria karena pilihan khusus dari Allah, dipercayakan untuk mengandung sang Juruselamat, yakni Putera Allah.

Bahkan, kendati keduanya memiliki pengalaman yang berbeda saat mengandung, namun di balik itu juga keduanya memiliki pengalaman iman yang sama. Sebab mereka telah dipilih oleh Allah dari semua wanita dalam sejarah keselamatan dunia ini untuk mengandung anak-anak yang nantinya akan menjadi sarana keselamatan bagi semua orang. Oleh karena itu, melalui perjumpaan Maria dan Elisabet, keduanya sangat berbahagia karena sama-sama mengandung seorang anak, yang terjadi karena belas kasih dari Allah.

Pengalaman iman Maria dan Elisabet itu mengingatkan kita pula mengenai apa yang paling penting dalam perayaan natal yang sedang kita nantikan. Sebab, kita akan menyambut kelahiran Yesus dan melihat-Nya di dalam palungan. Maka sebagai pengikut Kristus, kita pun dipanggil untuk saling berbagi sukacita antara satu dengan yang lain, sama halnya dengan Maria dan Elisabet yang telah membagikan sukacita mereka, yang mereka peroleh dikarenakan oleh anak yang akan mereka lahirkan. Dengan demikian, marilah kita juga bersukacita sambil menunggu kelahiran Kristus ke tengah-tengah dunia ini. Namun, bukan sekedar bersukacita, kita juga harus mempersiapkan diri untuk menyambut kelahiran-Nya.

(Fr. Lodefikus Sainyakit)

“Dan berbahagialah ia yang telah percaya sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk. 1:45).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, buatlah diriku menjadi seperti Maria yang dengan senang membagi sukacita kepada sesama. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini