“Arti Sebuah Ketulusan dan Kesetiaan”: Renungan, Sabtu 18 Desember 2021

0
2168

Hari Biasa Khusus Adven (U)

Yer. 23:5-8; Mzm. 72:2,12-13,18-19; Mat. 1:18-24.

Ada banyak orang yang tulus hati dan setia dalam hidup sehari-hari. Tulus hati dapat berarti mau memikirkan atau melaksanakan sesuatu tanpa praduga tertentu, keinginan balas jasa, kepercayaan penuh serentak menyatakannya dengan kesungguhan, kegembiraan dan kesetiaan. Bukanlah hal yang mudah untuk memiliki ketulusan hati dan semangat kesetiaan tersebut. Terlebih dalam dunia kita dewasa ini. Untuk memiliki ketulusan hati demikian, orang mesti siap dengan berbagai konsekuensi bahkan sadar akan pertaruhan harga diri. Namun, ketulusan hati dan kesetiaan dapat berbuah kebaikan dan kebahagiaan apabila membawa keselamatan bagi orang lain.

Ketulusan dan kesetiaan Yusuf untuk menerima Maria sebagai istrinya yang akan melahirkan Yesus membawa konsekuensi yang tidak mudah. Namun ketulusan hati ini mendatangkan keselamatan bagi banyak orang. Sosok seorang Bunda Maria, sekalipun menghadapi keadaan yang paling berat, tetapi ia tetap setia melaksanakan Sabda Tuhan sampai dengan akhir hidup Putera-Nya di kayu salib. Bunda Maria bukan hanya taat kepada Tuhan, tetapi juga kepada santo Yusuf, karena Santo Yusuf juga setia kepada Tuhan dan selalu mencari kehendak Allah.

Kesetiaan dan ketulusan Santo Yusuf melahirkan cinta dan cinta yang sejati itu terwujud kalau dua pribadi saling menghargai dan menerima orang lain dalam perbedaan, saling menyesuaikan diri dan mau saling mengampuni. Situasi itulah yang sudah ditunjukkan oleh santo Yusuf kepada Bunda Maria. Ia sangat menghargai dan menerima Bunda Maria sebagai istrinya, begitupun sebaliknya Bunda Maria sangat menghargai, mengerti dan menerima Santo Yusuf sebagai suaminya. Karena ketulusan dan kesetiaan Yusuf untuk menerima Maria sebagai istrinya maka lahirlah Sang Juruselamat umat manusia yang tidak lain adalah Yesus Kristus.

Dengan demikian, janji keselamatan bagi keturunan Daud yang telah diwartakan oleh para nabi kini tergenapi dalam diri Yesus Kristus. Allah ambil bagian dalam hidup manusia. Dan Allah menyertai perjuangan hidup manusia dalam diri Immanuel. Betapa dahsyatnya arti sebuah ketulusan dan kesetiaan itu. Kita pantas belajar dari Santo Yosef untuk memiliki hati yang tulus dan setia. Belajar dari Santo Yusuf, kita diajak untuk perlu mendasarkan keluarga kita pada ketulusan dan kesetiaan kita pada Tuhan.

(Fr. Paskalis Jaftoran)

“Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya » (Mat. 1 :24).

Marilah berdoa:

Allah Bapa yang Mahakuasa, aku bersyukur atas segala berkat dan campur tangan-Mu dalam kehidupan ini. Semoga Engkau senantiasa melimpahkan berkat atas segala harapan dan niat baik kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini