“Percayalah pada Penyelenggaraan Tuhan”: Renungan, Selasa 14 Desember 2021

0
1575

Pw S.Yohanes dr Salib (P)

Zef 3:1-2, 9-13; Mzm 34:2-3, 6-7, 17-18, 19, 23; Mat 21:28-32.

Bacaan-bacaan hari ini mengisahkan hukuman atas Yerusalem dan perumpamaan tentang dua orang anak. Dalam bacaan pertama, Nabi Zefanya mengisahkan murka Tuhan yang tertuju kepada mereka, di mana mereka mulai menyimpang dari jalan yang benar. Hal ini terlihat dari kehidupan mereka yang dipenuhi dengan penindasan dan pemberontakan. Namun kemudian, Allah menjanjikan keselamatan baik bagi orang-orang yang taat dan percaya kepada-Nya maupun mereka yang pernah menyimpang dari pada-Nya.

Dalam bacaan Injil dikisahkan perumpamaan tentang dua orang anak. Perumpamaan tersebut, sesungguhnya ditujukan kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi yang tidak percaya dan mempertanyakan atas kuasa mana Yesus mengajar. Dari sini, Yesus menegaskan bahwa “sesungguhnya orang-orang berdosa akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukan jalan yang benar kepada-Mu, dan kamu tidak percaya. Tetapi mereka percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kamu tidak percaya kepadanya”. Perkataan Yesus ini sesungguhnya mengajak kita semua untuk dapat menyadari dan menyesali segala dosa kita dan kemudian bertobat lalu percaya kepada Tuhan dan penyelenggaraan-Nya dalam hidup kita. Oleh karena itu perlu adanya rasa penyesalan di saat kita berbuat dosa.

Percaya pada penyelenggaraan Tuhan adalah suatu kewajiban kita umat Kristiani. Kita diharapkan untuk tetap berpegang teguh pada penyelenggaraan-Nya dalam kehidupan kita. Sebaliknya jika kita tidak percaya pada penyelenggaraan-Nya, maka kepercayaan kita kepada Tuhan dipertanyakan. Di dunia sekarang, tidak dapat dipungkiri bahwa kita seringkali tidak taat dan bahkan tidak berpegang teguh pada-Nya karena faktor duniawi yang mempengaruhi kita untuk ragu pada penyelenggaraan Tuhan. Menanggapi semuanya itu, kita diajak untuk dapat menyadari apa yang tidak seharusnya dilakukan dan menyesalinya, kemudian melakukan apa yang seharusnya dilakukan seperti yang dikehendaki Tuhan. Melaksanakan kehendak Tuhan berarti, bersedia untuk mengikuti perintah Tuhan. Seperti “hormatilah orang tuamu” berarti harus hormat kepada orang tua. Sederhananya “Jika ya katakan ya dan lakukan, dan jika tidak katakan tidak namun kemudian menyesalinya dan pada akhirnya melakukan kebenaran”. Dengan demikian kita melaksanakan perintah dan kehendak Tuhan.

(Fr. Robertus Batseran)

“Firman-Mu itu pelita bagi kaki ku dan terang bagi jalan ku” (Mzm. 119:105).

Marilah Berdoa :

Ya Tuhan, bimbinglah kami agar tetap berpegang teguh pada penyelenggaraan-Mu yang terwujud dalam diri Putera-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini