Hari Biasa (H)
BcE Dan. 6:12-28; MT Dan. 3: 68-74; Luk. 21:20-28. Bco Yeh. 38:14-39:10.
Rutinitas yang baik dan telah menjadi kebutuhan dalam hidup kita, terkadang menjadi pertentangan dengan beberapa aturan atau larangan yang dibuat oleh orang lain. Entah itu aturan atau larangan yang dimaksudkan untuk kepentingan banyak orang atau untuk kepentingan pribadi. Tentunya juga dalam membuat suatu rutinitas yang kita anggap hal itu baik belum tentu baik untuk orang lain. Akibatnya, kita yang mempunyai rutinitas yang baik itu seakan dipaksa untuk meniggalkan atau menghapusnya dalam keseharian hidup kita. Di sinilah, kita diuji sejauh mana kita dapat mempertahankan apa yang patut untuk diperjuangkan.
Dalam bacaan pertama hari ini dikisahkan tentang Daniel yang mendapat hukuman untuk dilemparkan ke dalam gua singa, karena melakukan rutinitasnya yang bertolak belakang dengan aturan atau larangan yang dibuat oleh raja Darius. Rutinitas yang dimiliki oleh Daniel itu bukan hanya bertentangan dengan larangan yang dibuat oleh raja, tetapi banyak orang lain juga yang tidak menyukai rutinitas yang dibuatnya. Lain halnya dengan raja Darius yang sangat mengasihi Daniel. Ketika mendengar tuduhan yang dilakukan oleh orang-orang Median dan Persia terhadap Daniel, sangat sedihlah hati raja dan ia ingin melepaskan Daniel, tetapi ia tidak boleh menarik kembali perintah yang telah ia keluarkan itu. Lalu, apa yang dilakukan Daniel ketika diperhadapkan dengan masalah itu? Daniel tidak pernah sekali-kali berpikir untuk meniggalkan rutinitasnya itu, yakni berdoa dan menaruh harapan kepada belas kasih Allah. Ia tetap dengan setia memuji Allah, sebab ia yakin dan percaya bahwa Allah yang ia sembah tidak akan meninggalkan ia dalam kesesakannya. Kesetiaan Daniel kepada Allah membuat Allah melindungi Daniel terhadap maut dengan cara Allah mengirimkan malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu.
Kemudian, dalam bacaan Injil hari ini diungkapkan dengan jelas bahwa menaruh harapan dan kesetiaan kepada Allah itu tidak selamanya berjalan dengan lancar, semuanya pasti mempunyai hambatan ataupun kesulitan tersendiri. Yerusalem pun yang telah dijanjikan oleh Allah akan menjadi kota kudus, pada saatnya kita akan melihatnya dikepung oleh tentara-tentara, dan saat itu pula kita akan tahu bahwa keruntuhannya sudah dekat (Luk. 21: 20). Keruntuhan Yerusalem pun digambarkan oleh penginjil Lukas dengan sangat sadis dan tragis. Namun di balik semua itu Allah tidak meninggalkan Yerusalem, tetapi Allah mengutus anak-Nya yang tunggal datang menyelamatkan Yerusalem dalam kemuliaan-Nya.
Maka, yang menjadi permenungan kita hari ini, yakni “Apakah kita masih bisa menaruh kesetiaan dan harapan kepada Allah, ketika kita diperhadapkan dengan berbagai macam masalah?”
(Fr. Kritovel Pepende)
“Penyelamatanmu sudah dekat”(Luk. 21:28).
Marilah Berdoa:
Tuhan, buatlah kami selalu setia dan berharap pada-Mu. Amin.











