“Berkorban Demi Kerajaan Allah”: Renungan, Rabu 24 November 2021

0
1417

(Pw S. Andreas Dung Lac, ImdkkMrt (M)

BcE Dan. 5:1-6, 13-14, 16-17, 23-28; MT Dan. 5:1-6, 13-14, 16-17, 23:28; MT Dan. 3:62-67; Luk. 21:12-19

Berkorban merupakan suatu sikap penyerahan diri yang utuh, tanpa pamrih, tanpa memikirkan untung atau rugi, untuk siapa dia harus berkorban, dan berbagai alasan lain yang membuat orang berani berkorban.

Bacaan pertama menampilkan sosok nabi Daniel yang mampu menafsirkan untuk raja tulisan di dinding. Menarik bahwa sebelum menafsirkan tulisan itu, raja menawarkan hadiah, berupa harta bahkan posisi bagi sang nabi  untuk menempati kursi sebagai orang ketiga dalam kerajaannya. Namun Daniel dengan tegas menolak. Ia mengorbankan tawaran raja yang menggiurkan itu dan memilih menafsirkan tulisan itu untuk raja. Sebab dia tahu bahwa, apa yang dia lakukan adalah demi memuliakan nama Allah.

Kisah serupa yang dialami Daniel dalam bacaan pertama, tampak dalam bacaan Injil. Yakni ketika Yesus menasehati murid-murid-Nya bahwa mereka yang berkerja demi nama-Nya akan menghadapi masa-masa penghinaan, penganiyayaan, dari orang-orang terutama penguasa-penguasa. Namun Yesus menguatkan mereka dengan berkata bahwa justru disaat itulah mereka akan memperoleh rahmat untuk bersaksi demi nama-Nya. Jelas yang dituntut ialah keberanian untuk mengorbankan segalanya dan berpegang teguh pada Allah. Sebab, hanya mereka yang tetap percaya kepada Tuhanlah yang akan memperoleh hidup. Injil hari ini semakin memperjelas arah dan tujuan hidup kita sebagai orang beriman, yakni demi Kerajaan Allah. Ini adalah tugas bersama yang kita tanggung dalam hidup, yaitu mewartakan nama Allah di tengah-tengah dunia, tanpa mempertimbangkan dampak apa yang diperoleh dari pewartaan itu. Sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh St. Andreas Dun Lac, imam praja Vietnam dan teman-temannya, yang kita peringati hari ini. Mereka tetap berpegang teguh pada Allah, bahkan dianiaya dan dibunuh oleh Kaisar Minh-Mang, seorang anti-Kristus yang memerintah di Vietnam tahun 1820-1840.

Kenyataan bahwa di masa modern ini penganiyaan, penghinaan, diskriminasi terhadap orang-orang yang percaya kepada Kristus masih terjadi di mana-mana. Namun sebagai umat beriman kita harus percaya dan senantiasa berpegang kepada janji Kristus, bahwa Tuhan senantiasa akan merahmati umat-Nya dengan keselamatan. Semoga bacaan-bacaan dan kisah hidup St. Andrea Dung Lac, dkk, menyadarkan kita untuk semakin berani mewartakan Tuhan dalam hidup, sekalipun itu menuntut pengorbanan harta, benda, bahkan nyawa.

(Fr. Karlos Tutratan)

 “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk. 21:19).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, rahmatilah kami umat-Mu agar senantiasa percaya kepada-Mu dan menjadi pewarta kabar gembira dalam hidup meskipun menutut pengorbanan. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini