« Harta Yang Berguna dan Tak Berguna » : Renungan, Selasa 23 November 2021

0
1464

Hari Biasa (H)

BcE Dan. 2:31-45 ; Luk. 21 :5-11

Di zaman sekarang ini, banyak orang berlomba-lomba untuk menunjukkan kekayaan mereka. Rumah, mobil, pesawat bahkan ada juga yang berlomba untuk membuat atau membangun gereja yang besar, megah dan bahkan harus lebih dari gereja lainnya. Memamerkan atau membangga-banggakan harta kekayaan memang begitu bagus dan menarik. Tetapi hal ini membuat orang lupa akan arti hidup yang sesungguhnya.

Dalam bacaan hari ini, khususnya dalam Injil Luk. 21:5-15 dikatakan bahwa, Yesus mengkritik orang-orang yang membanggakan dan mengagumi bangunan Bait Allah yang dihiasi dengan batu indah dan dengan berbagai macam barang persembahan. Yesus hendak mengatakan bahwa Bait Allah yang megah itu akan runtuh dan musnah. Sebab Bait Allah yang sesungguhnya ialah Allah itu sendiri. Dalam Gereja Katolik, sebelum kita diterima sebagai anggota Gereja, kita harus terlebih dahulu menerima sakramen baptisan. Mengapa? Karena orang yang telah menerima sakramen baptis dapat secara sah diterima ke dalam anggota Gereja. Bait Allah itu adalah Allah sendiri, Yesuslah kepalanya dan kita adalah anggota-angota-Nya. Dalam bacaan pertama, Daniel mendapat suatu penglihatan dan ia menceritakannya kepada raja Nebukadnezar bahwa ia melihat sebuah payung yang sangat besar dan terbuat dari berbagai bahan yang kuat dan indah. Tetapi toh, patung itu akhirnya runtuh dan bahkan tidak tersisa.

Banyak orang di dunia ini mungkin suka memperlihatkan harta bendanya hingga menjadikan kekayaan sebagai tolok ukur orang untuk memperoleh segalanya. Patut kita sadari bahwa semuanya itu akan musnah dan tidak akan kita bawa ketika kita mati, sebab semua kepunyaan dunia bersifat sementara saja. Pertanyaannya ialah, mengapa Yesus mengkritik orang yang terlalu mengagumi gedung Bait Allah yang megah itu? Yesus tahu bahwa kemegahan Bait Allah itu tidak ada artinya apabila kita hanya memandangnya sebatas suatu bangunan saja. Bait Allah memang hanyalah sarana untuk kita dapat sampai pada Allah. Tapi, tempat di mana Bait Allah yang sesungguhnya itu ialah hati kita. Oleh karena itu, Apabila kita berdoa dan memuji Tuhan dengan hati kita, itu sama halnya dengan kita mengagungkan Tuhan lewat bait-Nya yang megah itu. Jadi, harta yang perlu kita simpan dalam hidup kita di dunia ini adalah seluruh perbuatan baik kita. Perbuatan baik itu dapat menjadi nyata dengan menggunakan kekayaan kita untuk membantu orang lain dan bukan sebaliknya memamerkan kekayaan sebagai sebuah kekaguman yang semu.

Semoga melalui bacaan-bacaan hari ini, hati kita dapat sungguh-sungguh menjadi bait suci Allah, yang tentunya memiliki kesadaran untuk membangun sikap tolong-menolong dalam membantu sesama dibandingkan dengan sikap pamer. Sebab, menolong orang dengan menggunakan harta kekayaan yang kita miliki tentunya lebih bernilai di mata Tuhan dan akan membawa kita pada kebahagiaan kekal. Inilah harta surgawi yang sesungguhnya!

(Fr. Hironimus Victor Helyanan)

 “Apa yang kamu lihat di situ akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun  akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan” (Luk. 21:6).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, buatlah hati kami menjadi suci seperi bait-Mu yang kudus. Semoga kekayaan yang kami peroleh di dunia ini dapat menjadi sumber berkat dan kebahagiaan bagi sesama, dan terlebih dapat membawa kami kepada kebahagiaan surgawi kelak. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini