“Kesadaran Membentuk Iman” : Renungan, Rabu 10 November 2021

0
1754

Pw S. Leo Agung, PausPujG (P)

Keb. 6:1-11; Mzm. 82:3-4,6-7; Luk. 17:11-19.

Di saat seseorang membutuhkan pertolongan orang lain, misalnya ia membutuhkan pinjaman uang, orang tersebut akan membangun hubungan dan komunikasi yang baik dengan orang lain, agar bisa mendapatkan pinjaman. Hal yang menarik akan terjadi setelah ia mendapatkan pinjaman. Dalam realitas, biasanya ada dua situasi yang terjadi. Ada yang tetap mempertahankan hubungan baik, namun terkadang hubungan dan komunikasi yang baik itu mulai hilang.  Pada situasi yang kedua, menjadi semakin buruk bila peminjam menjadi sangat susah diajak bicara dan bahkan terkadang sulit untuk ditemui. Ia lupa akan pertolongan yang diberikan dahulu dan bersikap tidak tahu terima kasih. Ini adalah suatu realita yang bisa dijumpai dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam Kebijaksanaan 6 ayat 1-11, ditampilkan orang-orang yang melupakan kebaikan Allah. Mereka itu adalah para pemimpin atau penguasa yang tidak memerintah dengan tepat. Mereka tidak menaati hukum dan tidak berlaku menurut hukum Allah. Mereka telah menyalahgunakan kekuasaan yang dipercayakan kepada mereka. Oleh karena itu, mereka diperingatkan bahwa Allah akan mengadili mereka berdasarkan perbuatan-perbuatannya. Mereka dituntut untuk menjadi pemimpin yang bijaksana.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang Tuhan Yesus menyembuhkan orang kusta. Ada sepuluh orang kusta yang disembuhkan Yesus. Dari kesepuluh orang itu, yang datang untuk bersyukur dan berterimakasih kepada-Nya hanyalah satu orang. Ada sembilan orang yang tidak kembali untuk sekedar berterima kasih. Namun, kita melihat bahwa tetap ada orang yang mengingat kebaikan Tuhan yang diterimanya. Dia adalah orang Samaria. Dia menunjukkan sikap hormat kepada Yesus dan menyadari akan kuasa-Nya yang besar. Kesadaran inilah yang membentuk imannya dan membuat ia memperoleh kesembuhan. Ia mendapat keselamatan karena imannya. Ia tidak lupa untuk bersyukur dengan kebaikan yang telah diterimanya.

Dari kisah ini, Yesus mau mengajak kita untuk senantiasa menyadari dan mensyukuri kebaikan Tuhan. Kita perlu menyadari pemberian Tuhan dan bersyukur akan kasih-Nya yang selalu tercurah bagi kita. Kita perlu bersyukur demi kemuliaan Allah. Kesadaran untuk memuliakan Allah ini dapat pula kita wujudnyatakan dengan tindakan-tindakan kasih. Kita dapat membantu sesama yang menderita, agar kasih Allah dapat kita pancarkan pula bagi orang lain.

(Fr. Reno Sondakh)

“Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk. 17:19).

Marilah berdoa:

Ya  Allah, ajarilah kami untuk menjadi orang yang bijaksana dan selalu bersyukur akan setiap berkat yang  kami terima dari pada-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini