“Cerdiklah dalam Bertindak”: Renungan, Jumat 5 November 2021

0
1592

Hari biasa (H)

Rm. 15: 14-21; Mzm. 98: 1,2-3ab,3cd-4; Luk.16: 1-8

Daya tarik dunia ini amat kuat. Sebegitu kuatnya sehingga orang terpesona dan mulai tergiur dengan berbagai tawaran dunia. Berhadapan dengan daya tarik seperti demikian, kita dituntut untuk mampu bersikap bijak dan kritis agar hidup kita tidak terjerat oleh hal-hal duniawi semata.

Bacaan Injil hari ini berbicara mengenai bendahara yang tidak jujur. Berdasar pada perumpamaan ini, Yesus sebenarnya tidak mendorong orang untuk menjadi tidak jujur, tetapi Ia mau memperlihatkan tentang bagaimana kecerdikan sang bendahara tersebut dalam bertindak. Karena itu, moralitas si bendahara bukanlah merupakan inti masalah dari perumpamaan Yesus tersebut, melainkan kelihaian yang digunakan oleh si bendahara.

Apa yang dapat kita pelajari dari sang bendahara dalam perumpamaan yang diceritakan oleh Yesus?

Pertama, kita harus berani mengambil langkah yang tepat untuk masa depan dalam situasi kritis. Kita tidak boleh menyerah dan putus asa saat menghadapi kegagalan. Hal tersebut telah dilakukan oleh si bendahara. Ia berusaha untuk tidak terbuai dan terjatuh dalam keputusasaan atau meratapi keadaan melainkan berpikir untuk mengatasi masalah yang sementara ia hadapi.

Kedua, kita diajarkan untuk tidak boleh lari dari masalah, melainkan dituntut untuk mampu mempertanggung-jawabkan masalah tersebut dengan cara kita sendiri.

Ketiga, sebagai umat beriman, kita diharapkan untuk dapat memiliki dan menghidupi sikap pribadi yang berorientasi pada penyelesaian masalah, bukan fokus pada masalah. Artinya, ketika kita menghadapi sebuah masalah, maka kita harus mencari jalan keluar untuk menyelesaikannya bukan terus terbuai dalam masalah tersebut.

Kendati demikian, Yesus juga menghendaki agar semua tindakan yang kita lakukan haruslah berlandaskan pada iman. Sebab jika tidak demikian, maka tindakan tersebut pada akhirnya akan merugikan orang lain demi kepentingan diri sendiri. Kita bersikap cerdik tetapi licik, lihai tetapi jahat. Hal itu terjadi apabila kita bertindak tanpa berlandaskan pada iman. Iman akan  Tuhan adalah iman yang mampu mengalahkan cobaan dan pergumulan hidup kita.

Dalam bacaan pertama, rasul Paulus juga mengingatkan dan menasihati kita tentang pentingnya iman. Kita mampu menyadari identitas kita sebagai orang beriman, yang tidak sekedar mementingkan perkara duniawi dengan segala hal yang ada di dalamnya. Kita harus mengutamakan keselamatan dan hidup abadi dalam diri Yesus Kristus. Oleh karena itu, sangatlah dibutuhkan keteguhan iman untuk mampu mencermati derasnya arus duniawi yang mengitari hidup kita.

(Fr. Blasius Helyanan)

“Dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah” (Rm. 15: 17).

 Marilah Berdoa:

Tuhan, tambahkanlah iman kami untuk selalu mengandalkan-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini