“Totalitas Pengikut”: Renungan, Rabu 3 November 2021

0
1610

Hari Biasa (H)

Rm.13:8-10; Mzm. 112:1-2,4-5,9; Luk. 14:25-33.

Ada seorang pengusaha yang ingin agar anaknya dapat menggantinya di perusahaannya. Ia ingin supaya anaknya dapat melanjutkan perusahaan yang selama ini ia bangun. Namun harapannya sia-sia. Anaknya lebih memilih jalan lain yang baginya dapat mendatangkan kebahagiaan dalam hidupnya.

Bacaan-bacaan hari ini mengingatkan kita akan pentingnya totalitas kita dalam mengikuti Tuhan. Dalam bacaan Injil, Yesus bersabda, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”. Yesus tidak ingin ada penghalang dalam mengikuti-Nya. Karena mengikuti Dia berarti, kita harus menyangkal diri kita. Kita harus melepaskan segala kepunyaan kita dan mengikuti Dia. Ia  menyampaikan hal ini, agar kita sadar betapa penting mengikuti-Nya. Bukan sekadar gengsi melainkan karena keinginan pribadi kita untuk menaruh kepercayaan kepada-Nya.

Orang Kristen harus siap dalam memikul salib. Salib itu walaupun berat, tetapi kita harus dengan setia dan taat memikulnya. Walaupun kita menderita karena salib, tetapi Tuhan selalu ada dan bersama kita. Karena di balik salib itu tersimpan secercah cahaya. Cahaya itu yang menghantarkan kita pada kebahagiaan kekal bersama-Nya.

Anak pengusaha tadi mengambil keputusan secara total untuk mengubah hidupnya. Demikian halnya mengikuti Yesus pun harus dalam sikap totalitas. Tanpa memandang siapa saya atau sudah pantaskah saya untuk mengikuti-Nya? Kalau kita masih berpikir seperti itu, maka kita masih hidup dalam keragu-raguan. Kita belum mampu mengambil keputusan. Tetapi kalau kita benar-benar yakin bahwa keputusan yang kita ambil dapat mendatangkan kebahagiaan, maka jangan pernah ada kata ragu.

Keraguan itu dapat membunuh ambisi kita untuk berkembang. Tetapi kalau kita memilih untuk mengikuti-Nya tanpa khawatir, sudah barang tentu kita mampu menanggung semua risiko yang datang menerpa hidup kita. Karena kita yakin, kebahagiaan terbesar sedang menunggu kita di depan.

Maka dari itu, janganlah ragu-ragu dalam mengikuti-Nya. Karena ingin menjadi murid-Nya, kita harus mengorbankan yang lain dan taat serta setia kepada-Nya. Semoga kita semua dapat dengan sadar dan percaya selalu mengikuti Yesus dalam suka dan duka hidup kita.

(Fr. Afelindus Babaubun)

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk. 14:25-33).

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, mampukanlah kami untuk dapat mengikuti Engkau secara total dan tanpa ragu. Jadikanlah kami murid-murid-Mu yang setia dan selalu taat di jalan yang telah Kau tunjukkan kepada kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini