“Panggilan kepada Kekudusan”: Renungan, Senin 1 November 2021

0
1744

Hari Raya Semua Orang Kudus (P)

Why. 7:2-4,9-14; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; 1Yoh. 3:1-3; Mat. 5:1-12a.

Gereja memiliki tiga persekutuan yakni persekutuan Gereja yang berziarah, persekutuan Gereja yang berada dalam api penyucian atau pemurnian, dan persekutuan orang kudus yang telah berbahagia bersama Bapa di Surga. Ketika kita dibaptis maka kita masuk dalam satu tubuh mistik dengan Kristus sebagai kepala, dimana masing-masing anggota berkontribusi terhadap kebaikan semua anggota dan berbagi dalam keselamatan semua anggota.

Hari ini Gereja merayakan hari raya semua orang kudus. Hari raya ini dimaksudkan untuk menghormati persekutuan orang kudus atau anggota Gereja yang telah berbahagia bersama Bapa di Surga. Mereka telah memelihara iman dengan baik sampai pada akhir pertandingan di dunia ini sehingga memperoleh ganjaran yang besar di surga. Dalam bacaan pertama, Yohanes memberikan kesaksian bahwa ia melihat kumpulan besar orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya dari segala bangsa dan suku, kaum dan bahasa. Mereka berdiri di hadapan takhta dan dihadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka (Why. 7:9).

Dalam Bacaan Injil, Yesus mewartakan sabda bahagia dan memberikan inspirasi  supaya kita kelak boleh bersama-sama dengan persekutuan Gereja yang telah berdiri di hadapan Anak Domba di Surga. Sabda Bahagia yang diwartakan Yesus memang tidak mudah karena konsep kebahagiaan itu bukan soal kesempurnaan fisik, kekayaan, popularitas dan kedudukan. Akan tetapi kita harus berusaha hidup baik dan bersandar pada kehendak Tuhan, selalu lemah lembut dalam kata-kata dan tindakan, senang untuk hidup jujur, adil dan rendah hati, mau berkorban bagi siapapun yang membutuhkan pertolongan kita.

Paus Fransiskus dalam dokumen Gaudete et Exsultate (bersukacitalah dan bergembiralah) menuliskan “jangan takut pada kekudusan”. Kita sering tergoda berpikir bahwa kekudusan hanya untuk mereka yang dapat mengundurkan diri dari urusan duniawi dan menghabiskan banyak waktu dalam doa. Akan tetapi kekudusan menunjuk juga pada mereka yang menjalani panggilan dengan cinta. Santo dan santa serta para martir diangkat oleh Gereja karena cinta mereka yang besar akan Kristus. Meskipun banyak tawaran kebahagiaan kekayaan, popularitas dan kedudukan akan tetapi mereka tetap bertahan. Bila kita setia maka kita pun akan mendapatkan kebahagiaan kekal sebagai anak-anak Allah (bdk. 1Yoh. 3:1).

(Fr. Marciano Pantow)

Bersukacitalah dan bergembiralah karena upahmu besar di Surga(Mat. 5:12).

 

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bimbinglah kami dalam hidup ini supaya boleh mencapai kekudusan. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini