Hari Minggu Biasa XXXI (H).
Ul. 6:2-6; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,47,51ab; Ibr. 7:23-28; Mrk. 12:28b-34.
Saudara terkasih, kasih terhadap Allah mencakup dengan sendirinya kasih kepada sesama. Umat Israel disebut umat perjanjian karena Allah dalam kasih-Nya menjadikan mereka umat kesayangan-Nya. Dalam kasih yang sama mereka menanggapi panggilan itu dengan setia. Mereka senantiasa diingatkan bahwa Allah itu satu/esa (Yahwe) mencintai mereka. Wajiblah mereka mencintai-Nya dengan segenap hati (Ul. 6:2-6). Seperti dalam Perjanjian Lama, umat Perjanjian Baru pun dipanggil untuk mengasihi Tuhan dengan segala daya yang ada. Kasih itu sudah dengan sendirinya mencakup dengan siapa saja (Mrk 12:28b-34). Kristuslah pengantara definitif antara Allah dan manusia, Imam Agung satu-satunya, dan Dia telah mengurbankan diri seutuhnya untuk kita. Hanya Dia saja yang dapat membuahkan persekutuan sejati manusia dengan Allah (Ibr. 7:23-28).
Bacaan pertama mendaraskan Shema (Dengarlah hai Israel). Shema ini begitu sakral karena ketika hal itu didaraskan, seorang Israel mengungkapkan iman dan memaklumkan kesetiaannya kepada Allah. Allah itu dikasihinya dengan segenap hati, jiwa dan dengan seluruh kekuatan. Seorang Israel bersedia mengorbankan apa saja demi kesetiaan kepada Allah dan perjanjian-Nya. Allah adalah tempat berlabuh dan perlindungannya. Keyakinan ini menjadi nafas kehidupan seorang Israel yang saleh.
Injil hari ini menceritakan tentang ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus tentang hukum manakah yang paling utama (Mrk. 12:28b). Yesus menjawab itu dengan ayat pembuka Shema (Ul. 6:5). “Dengarlah Hai Israel, Tuhan itu Allah, Tuhan itu Esa. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa dan kekuatanmu” (Mrk. 12:29-30). Dengan satu nafas Yesus menambahkan: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mrk. 12:31).
Yesus menyandingkan kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Dan, di situlah keunggulan perintah Yesus. Yesus memberikan bobot yang sama atas keduanya: ‘kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.’ Yesus sendiri mengajarkan dan melaksanakannya dengan cara hidup yang diberikan-Nya untuk tebusan bagi banyak orang. Oleh sebab itu, kasih Allah berdiam hanya dalam orang yang mengasihi sesamanya.
Saudara terkasih, wujud nyata kasih itu dapat kita amalkan dengan mengasihi semua orang, tanpa terkecuali. Mengasihi teman, saudara, kerabat, keluarga, orang tua dan bahkan orang-orang yang memusuhi kita. Itulah wujud nyata dari kasih yang diinginkan oleh Yesus untuk kita contohi. Kalau kita belum siap dan rela, kita belum sungguh-sungguh mengamalkan perintah dan hukum paling utama tentang mengasihi Allah dalam diri sesama. Allah yang sama itu hadir saat ini di sini menawarkan kita kasih-Nya yang tanpa batas. Siapkah anda mengamalkan kasih itu?
(Fr. Dkn. Berly Dianomo)
“Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini” (Mrk. 12:31b).
Marilah berdoa :
Tuhan, mampukanlah kami mengamalkan kasih itu. Amin.











