“Batu Penjuru”: Renungan, Kamis 28 Oktober 2021

0
2922

Pesta S. Simon dan Yudas, Ras (M).

E Kem. BcE Ef. 2:19-22; Mzm. 19:2-3,4-5; Luk. 6:12-19. O AllTuh.

Dalam Injil sinoptik kita akan menemukan bahwa Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai batu penjuru yang di atas-Nya orang membuat bangunan atau Dia sendirilah mahkota pelaksanaan bangunan. Kendati modelnya tidak terlalu penting, justru Dialah yang menjamin kokohnya Bait Suci yang terdiri dari semua orang Kristen yang berperan sebagai batu-batu yang hidup. Analogi diri-Nya telah memperkokoh gereja dan kaum beriman hingga kini.

Bacaan hari ini memperkuat identitas kita sebagai orang beriman bahwa menjadi pengikut Kristus berarti kita dipanggil dan dipilih oleh Yesus untuk menjadi seperti Diri-Nya sebagai batu penjuru yang memperkokoh cara atau hidup beriman kita. Ada tiga unsur yang dapat kita temukan sebagai dasar hidup sebagai batu penjuru. Pertama adalah hidup doa. Yesus menghendaki bahwa sebagai pengikut-Nya, dasar terpenting dari apapun yang kita lakukan  adalah doa sebagai kunci yang membuka segala aspek hidup dan karya kita. Hal ini tentu mempertegas bahwa apa yang Yesus mulai yaitu memanggil para murid-Nya yang pertama dengan dasarnya doa sehingga rencana keselamatan Allah selalu mewujud dalam kesaksian hidup. Unsur yang kedua adalah, sebagai batu penjuru, berarti kehadiran kita dapat membawa sukacita yang luar biasa bagi orang yang menderita, kehilangan harapan akan kebenaran, agar mereka semakin percaya akan karya Allah yang selalu mewujud dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, pastoral kehadiran adalah cara kita mewujudkan diri sebagai batu penjuru seperti Yesus, Guru dan Teladan hidup kita.

Unsur ketiga yang ditegaskan juga oleh Rasul Paulus adalah kita yang telah dibangun atas dasar Yesus Kristus sebagai batu penjuru telah memperkuat keistimewaan kita sebagai pengikut-Nya seperti halnya Paulus yang merasa istimewa setelah setia mengikuti cara hidup Yesus. Keistimewaan yang diterima tidak lagi menjadikan kita orang asing melainkan sewarga dengan orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah. Itu berarti menjadi batu penjuru kita dipanggil pada sebuah keteraturan hidup sebagaimana yang telah dilaksanakan Yesus dalam karya kesatuan dengan Bapa dan Roh Kudus dalam segala rencana keselamatan kita.

Pesta St. Simon dan Yudas Rasul mengingatkan kita untuk setia dan berani mengikuti cara hidup Yesus untuk menjadi batu penjuru yaitu dengan tidak kendor semangat doa dan karya kita, sehingga memberikan keistimewaan hidup yang kita terima dari Yesus berkat teladan hidup-Nya sebagai batu penjuru memperkuat kehadiran kita sebagai pembawa damai dan sukacita bagi setiap orang. Dengan begitu bangunan hidup kita sebagai orang beriman akan Kristus pun selalu tetap mewarnai suka-duka hidup kita dan membantu kita kelak sehingga dapat menjadi sewarga dengan para kudus di surga yang selalu berbahagia.

 (Fr. Edo Salilo)

Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan” (Ef. 2:21).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bentuklah hidup kami menjadi batu penjuru yang memperkokoh harapan dan iman kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini