“Suara Hati”: Renungan, Jumat 22 Oktober 2021

0
1629

Hari biasa (H).

Rm. 7:18-25a; Mzm. 119:66,68,76,77,93.94; Luk. 12:54-59.

Menjadi seorang yang bertanggung jawab bukanlah hal yang mudah. Ada begitu banyak rintangan dan tantangan yang akan dijumpai. Sebagai contoh, Presiden. Kebijaksanaan, keadilan dan kejujuran adalah tiga dasar perilaku yang wajib dimiliki apabila ingin menjadi seorang pemimpin. Ayat Kitab Suci (Yer. 22 : 16) memberikan gambaran tentang contoh pemimpin yang disukai oleh rakyatnya. Dan sebaliknya (Yer. 22 : 17), adalah contoh ketamakan seorang pemimpin yang akan menghancurkan rakyatnya sendiri. Ketika seseorang memiliki sifat yang terlalu obsesif akan kekuasaan justru sifat itu akan membuat orang itu lebih terjerumus dalam dosa.

Dosa. Ya, kita semua mengetahui bahwa di dunia ini tidak seorang pun yang tidak memiliki dosa atau lebih tepatnya berbuat dosa. Ada sebagian orang berpendapat bahwa “sesuatu” dikatakan dosa apabila merupakan kejahatan besar seperti tindak kriminalitas, kedurhakaan seorang anak terhadap orangtua atau perilaku-perilaku lainnya. Kalau bisa dibagi, dosa itu terdiri dari dua, yaitu dosa yang disadari dan dosa yang tidak disadari.

Pertama, dosa yang disadari. Ada sebuah cerita pendek. Seorang anak secara tidak sengaja melihat sebuah dompet jatuh dari seorang ibu. Anak itu langsung memungutnya dan hendak mengembalikan pada ibu yang empunya dompet itu. Namun, ketika si anak iseng untuk membuka dompetnya, ternyata di dalam dompet itu ada beberapa lembar uang. Hasrat untuk mencuri datang di benak anak itu. Seketika dia sadar bahwa yang akan dilakukannya itu adalah dosa, tetapi karena keinginan untuk mencuri uang itu lebih besar, maka anak itu mengambil uangnya.

Kedua, dosa yang tidak disadari. Dosa tipe inilah yang kita lakukan tapi kita tidak mengetahuinya. Sebagai contoh, ada seorang perempuan datang ke pesta ulang tahun temannya. Dia datang dengan dandanannya yang cantik. Ketika beberapa temannya melihat dia dan kebetulan mereka tidak menyukai perempuan itu, mereka pun mulai bergumam dan melontarkan kata-kata yang biasanya seperti, ‘pasti dia mau pamer’, ‘sok cantik’, dan lain sebagainya. Ya, dalam arti lain kita dapat memasukkannya dalam kelompok dosa yang tidak disadari karena iri hati adalah salah satu contoh di dalamnya.

Dari kedua cerita di atas kita harus belajar memahami dan mendengarkan apa yang dikatakan suara hati. Alangkah indahnya dunia ini apabila bebas dari dosa walaupun itu hanya dosa kecil. Ketika semua orang mau dan ingin mendengarkan hati nurani, sungguh damai hidup ini ketika bebas dari kekangan dosa. Belajarlah untuk menilai lebih terhadap diri kita sendiri. Apabila kita berhasil, yakin lah bahwa kita akan dengan mudah memahami dunia sekitar kita.

(Fr. Arsti Onibala)

“Jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku” (Rm. 7: 20).

Marilah berdoa :

Tuhan, bantu aku untuk senantiasa mendengarkan isi hatiku daripada mengikuti kemauanku. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini