Pw. St. Fransiskus Asisi (P)
Yun.1:1-17; 2:10; Mzm. Yun.2:2-4.7; Luk.10:25-37
Saudara/i yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, bacaan-bacaan pada hari ini hendak menjelaskan kepada kita bahwa kita selaku pengikut Kristus, hendaknya mengenakan kasih sebagai identitas diri kita. Bacaan Injil dengan jelas menggambarkan bahwa untuk mengasihi Allah dan sesama hendaklah tidak ada batasannya. Sekalipun ada orang yang bersalah kepada kita hendaknya kita memaafkannya. Bacaan pertama hendak menceritakan kepada kita bahwa Allah selalu dan senantiasa akan mengasihi kita apabila kita menyerahkan seluruh hidup kita pada-Nya. Sekalipun Yunus menolak perintah Allah, ia masih dikasihi oleh Allah.
Sejak sebelum dunia diciptakan hingga pengutusan anak-Nya yang terkasih, Allah memberikan keselamatan umat manusia didasarkan oleh kasih-Nya yang tiada batas. Yesus Kristus pun telah menunjukkan kasih yang tiada batas seperti yang telah dikisahkan Kitab Suci. Cinta-Nya yang tiada batas itu berpuncak pada sengsara dan wafat-Nya di salib. Kasih yang telah ditunjukkan-Nya kiranya menegaskan bahwa kehidupan kita didasarkan atas kasih-Nya yang tanpa batas. Oleh karena kasih-Nya itu, kita dapat hidup. Maka kenakanlah kasih tersebut sebagai identitas diri kita.
Kasih ibarat sebuah kartu yang perlu diperbaharui supaya terbebas dari masa kedaluwarsa. Mengenakan kasih berarti kita memberikan seluruh hidup kita kepada-Nya. Kehadiran Yesus dalam diri kita akan menghadirkan kebahagiaan yang tiada tara. Bahwa kita tidak berbeban berat dengan situasi sulit yang kita hadapi, kita tidak tergoda akan harta duniawi semata, melainkan hidup menjadi lebih bermakna karena bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih. Hal ini telah dibuktikan oleh St. Fransiskus Asisi yang kita peringati pada hari ini. Bahwa ia meninggalkan segala kekayaannya demi menemukan kebahagiaan sejati yakni Tuhan kita Yesus Kristus. Dan apabila kita menjauh dari Tuhan, kasih akan perlahan memudar dari kepribadian kita sehingga jiwa kita terasa hampa sehingga kita mudah mengalami kerapuhan.
Saudara/i yang dikasihi Tuhan, oleh karena kasih memberikan kebahagiaan yang besar dalam kehidupan kita, maka kenakanlah kasih sebagai identitas kita. Sebab dengan menggunakan kasih kita dapat mengakses kebahagiaan dari pada-Nya. Dengan demikian agar kasih semakin bertumbuh dan berkembang, maka patutlah kita selalu mengarahkan diri kita untuk bersatu dengan Tuhan dan menaruh seluruh harapan hidup kita kepada-Nya.
(Fr. Vier Tethool)
“Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk. 10:37).
Marilah berdoa:
Ya Allah, semoga kami mampu mengenakan kasih-Mu sebagai identitas diri kami. Amin











