Pw. S. Ireneus, Uskup dan Martir (M)
2Raj. 24:8-17;Mzm. 79:1-2,3-5,8,9; Mat. 7:21-29
Sebuah Gereja kecil, organisasi, komunitas dan basis, membutuhkan satu kesatuan dalam mengejar satu tujuan. Itu adalah usaha yang dijalani dengan begitu banyak proses dan bukan dengan banyak protes.
Walaupun nantinya ada begitu banyak hambatan dan kita pun sering dibuatnya stress, namun yakinlah bahwa tak ada jalan lain untuk meraih sukses selain melewati suatu proses.
Bosan, gagal, letih, dan ingin menyerah merupakan relita yang mesti diatasi; jadikanlah itu sebagai tantangan dan kesempatan untuk meraih kemenangan.
Hidup tak selalu diisi dengan cerahnya matahari dan indahnya pelangi. Terkadang hidup menjadi gelap seperti diterjang badai, terpendam dan terkubur pengap, sendiri, sepi, sunyi, dan senyap.
Hal itu akan datang, tapi tak akan menetap. Jangan percaya akan keterbatasan melainkan besarkan harapan; jangan terlarut dalam keraguan tapi ciptakan kemauan; dan jangan berserah dengan keadaan tapi bangkitlah dalam keyakinan.
Hari ini, melalui teladan Santo Ireneus, kita diajak untuk memperbaharui diri dan sekaligus memperkuat iman kita kepada Kristus melalui Gereja-Nya. Walaupun ada begitu banyak tantangan dari pihak manapun, ia tetap mempertahankan ajaran iman yang benar dan meneguhkan damai dalam tubuh mistik Gereja.
Ireneus merupakan bagian dari rencana Allah terhadap pengembangan iman umatNya: ”Aku akan memperhatikan domba-dombaKu, mengangkat seorang gembala sebagai pemimpin, dan Aku, Tuhan sendiri, menjadi Allah mereka”.
Membela iman dengan kecerdasan dan kebijaksanaan, keluasan pandangan dan iman yang mendalam akan Yesus Kristus membuat St.Ireneus berjasa dalam tahun-tahun permulaan Gereja.
Bacaan pertama mengajak kita untuk tetap setia pada komitmen. Pengkhianatan yang dilakukan oleh Raja Yoyakhim, membuat Allah tidak lagi menghalangi kedatangan bala tentara Babilonia dan semua perwira untuk mengangkut Raja Yoyakhim serta seluruh penghuni istana menuju ke tempat pembuangan, padahal semua orang ingin untuk diselamatkan.
Komitmen mesti dibangun atas dasar sebuah pilihan dan janji di hadapan Allah. Dengan usaha itu, kita bukan hanya membuat janji untuk dijalani, tapi juga membuat janji untuk dihayati dan dihidupi.
Bacaan Injil menegaskan bahwa hendaklah kita bersikap hati-hati terhadap kemunafikan. Dalam iman akan Kristus, segala bentuk tindakan tak akan berguna jika kita menipu Tuhan dalam tingkah laku kita.
Lantas apa cara yang bisa membuat Sabda itu menjadi hidup? Yakni mendengar Sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
(Fr. Michael Terok)
“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu” (Mat. 7:24).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, ajarlah aku untuk memandang setiap kesempatan dalam terang iman.











