“Beriman: Jangan Tawar Hati!”: Renungan, Minggu 5 September 2021

0
1871

Minggu Biasa XXIII (H): Minggu Kitab Suci Nasional                                                          

BcE. Yes. 35:4-7a; Mzm. 146:7, 8-9a, 9bc-10; Yak. 2:1-5; Mrk. 7:31-37

Pada Minggu I bulan September Gereja Katolik Indonesia merayakan Hari Minggu Kitab Suci Nasional (HMKSN). Harapan dari perayaan ini adalah umat beriman semakin akrab dan lebih mengenal Kitab Suci sebagai cara bertumbuh dan lebih kuat di dalam iman. Oleh karena itu, sebagai cahaya, petunjuk dan salah satu sumber iman, Kitab Suci memberi petunjuk iman, harap dan kasih kepada Allah dan sesama dalam memahami jati diri sebagai orang beriman akan Allah.

Bacaan hari ini memberi petunjuk tentang arti dan makna sebagai orang beriman dengan menyadari bahwa beriman berarti tidak tawar hati. Sebagai orang yang beriman akan Kristus, kita harus memiliki jati diri seperti Kristus yang selalu mencintai diri dan sesama-Nya. Bahkan menerima setiap derita salib sebagai cara terbaik mengaktualkan kasih yang nyata dan tugas yang diserahkan Bapa kepada-Nya. Hal tersebut mengingatkan kita bahwa derita, kemalangan, kesombongan, keangkuhan dan ketamakan akan semakin melemahkan iman.

Amsal 24:10 mengingatkan kita bahwa jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu sebagai orang beriman. Beriman dengan tidak tawar hati berarti pertama-tama menyadari bahwa kita tidak akan takut kehilangan jati diri di saat kemalangan karena kita tetap memiliki iman bahwa Tuhan akan menyelamatkan kita (Yes. 35:4).

Kedua, beriman berarti tidak membedakan sesama menurut kehendak hati kita yang jahat kepada orang-orang yang rendah, miskin, dan terpinggirkan, melainkan mengakui kesatuan kita dengan mereka dalam mencapai kekayaan dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan Allah kelak (Bdk. Yak. 2:5). Dan ketiga, beriman yang tidak tawar hati berarti kita menjadi orang-orang yang dapat mengantar begitu banyak orang lain kepada Kristus dan mereka memperoleh rahmat, cinta dan keselamatan (Bdk. Mrk 7:32).

Santa Theresia dari Kalkuta mengajarkan kita bagaimana agar kita tidak menjadi tawar hati sebagai orang beriman yakni dengan mencari Tuhan dalam keheningan dan doa. Pada bulan Kitab Suci ini, mari sebagai umat beriman, kita tidak membiarkan setiap orang yang datang pada kita pergi tanpa merasa lebih baik dan bahagia, berusaha menjadi ungkapan hidup dari kebaikan Tuhan yang terpancar dari wajah kita, kebaikan dalam mata kita, dan kebaikan dalam senyum kita.

(Fr. Edo Salilo)

“Kuatkanlah hati, janganlah takut!” (Yes. 5:4).

Marilah berdoa:

Tuhan, semoga hati kami semakin tulus dalam mengungkapkan iman, harap dan kasih kami kepada-Mu, diri dan sesama kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini