“Pengajaran yang Penuh Kuasa”: Renungan, Selasa 31 Agustus 2021

0
1337

Hari Biasa (H)

BcE 1Tes. 5:1-6,9-11; Mzm. 27:1,4,13-14; Luk. 4:31-37.

Penolakan orang Nazaret membuat Yesus beralih ke Kota Kapernaum yang terletak di pinggir danau Galilea. Yesus menjadikan kota itu sebagai basis untuk pelayanan-Nya. Kitab Suci tidak mencatat, apakah orang-orang ditempat itu sudah mengenal Yesus sebelumnya atau bahkan memiliki hubungan kekeluargaan dengan Yesus. Tapi dengan peralihan-Nya, Yesus memberi kita identitas hingga hari ini, di mana Gereja adalah sebuah bahtera dan kita utusan-Nya adalah penjala jiwa-jiwa.

Merintis karya di tempat yang baru, Tuhan Yesus langsung berhadapan dengan tantangan dari pengikut iblis yang menghancurkan martabat manusia. Di taman Eden, keutuhan martabat manusia pertama runtuh karena jeratan iblis. Sekarang di hadapan Yesus, setan kembali mencoba menghancurkan martabat manusia dengan merasukinya. Jelas manusia itu tidak hidup seperti manusia normal; mungkin tanpa pakaian yang sopan, menebar ketakutan, dan sebagainya. Yesus pun bertindak menunjukkan kuasa-Nya dan mengusir setan tersebut. Setan pun tunduk, manusia dibebaskan. Inilah indikator awal, bahwa Yesus berkuasa atas alam semesta dan segenap isinya.

Pengajaran dan mukjizat penyembuhan yang dilakukan Yesus membuat banyak orang di Kapernaum menjadi takjub. Sayangnya perasaan takjub tersebut tidak menghantarkan iman mereka untuk mengakui bahwa Yesus adalah Mesias; nantinya, Tuhan Yesus mati di salib oleh bangsa-Nya sendiri. Walaupun masyarakat modern cenderung mengesampingkan peranan iblis, namun itu tidak berarti bahwa iblis lenyap. Malah dalam ketidakpercayaan manusia, iblis bisa bekerja lebih efektif. Oleh karena itu, kewasapadaan terhadap kegelapan harus digalakkan sepanjang waktu. Jangan sampai kita terbawa dalam pemahaman yang salah. Ketika kita tidak lagi memandang peranan iblis sebagai hal yang nyata, sikap tobat pun menurun. Kita menutup pintu pengampunan, padahal pengampunan itu penting untuk keselamatan.

Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita hanya akan berhenti pada perasaan takjub semata? Sebagai pengikut dan murid Yesus, selain takjub, kita perlu mewujudkan ajaran-Nya secara konkret melalui pikiran, perkataan, dan tindakan sehari-hari. Kita pun perlu menyadari, bahwa kadang kala niat dan perbuatan baik kita belum tentu dapat diterima dengan baik oleh orang lain. Jika kita mengalami hal demikian, janganlah berkecil hati atau putus asa. Jangan terburu-buru menyalahkan orang lain. Bisa saja penolakan mereka terjadi karena kita sendiri yang belum menampilkan keselarasan antara perkataan dan perbuatan kita.

(Fr. Penus Letsoin)

“Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh Kuasa” (Luk. 4:32).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, Engkau telah membebaskan orang yang kerasukan setan di Kapernaum. Kami mohon lindungi dan bebaskanlah kami pula dari yang jahat, agar dapat selalu bebas memuji-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini